Jokowi Janjikan Insentif Pajak Bagi Perusahaan yang Latih Pegawai

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi ucapan selamat pada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati disela mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, 12 Februari 2018. Sri Mulyani Indrawati, mendapatkan penghargaan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister in the World Award) di World Government Summit. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi ucapan selamat pada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati disela mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, 12 Februari 2018. Sri Mulyani Indrawati, mendapatkan penghargaan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister in the World Award) di World Government Summit. TEMPO/Subekti

    Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menginstruksikan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani dan jajaran menteri bidang perekonomian agar memberi insentif pajak bagi perusahaan yang memberikan pelatihan keahlian bagi pegawainya. Insentif ini untuk menstimulasi agar ada peningkatan kualitas dari tenaga kerja lokal dan menciptakan pemimpin masa depan yang handal untuk
    Indonesia.

    Baca juga: Jokowi Apresiasi Taring BI Keluar Jaga Stabilitas Rupiah

    "Dalam dua minggu ini saya sudah bicara dengan Menkeu (menteri keuangan) dan menteri-menteri ekonomi untuk berikan super deduction tax untuk perusahaan, BUMN, yang memberikan training pada para pekerjanya untuk menaikkan kapasitas mereka," kata Jokowi dalam peresmian pembukaan Kompas100 CEO Forum di Jakarta Convention Centre, Jalan Jend. Gatot Subroto, Jakarta, Selasa, 27 November 2018.

    Jokowi menjelaskan pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan agenda penting kedua dari pemerintahannya usai membangun infrastruktur secara besar-besaran empat tahun terakhir. Untuk mewujudkan itu, kata dia, pemerintah mendorong pendidikan vokasi dan keterampilan kerja.

    Jokowi menargetkan pada 2019 dilakukan pengembangan SDM secara besar-besaran sehingga pola pikir masyarakat bisa berubah dari konsumtif ke produktif. Selain itu, proyek ini demi menciptakan kepemimpinan masa depan guna menghadapi revolusi industri 4.0 yang membawa banyak perubahan bagi kehidupan masyarakat.

    Jokowi menyatakan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang banyak membawa perubahan radikal, perlu ada pemimpin yang berpikiran terbuka ke depannya. "Kita butuh pemimpin baik di pemerintahan, perusahaan, BUMN, kita butuh pemimpin yang open minded, terbuka, karena sekarang zaman keterbukaan," kata dia.

    Ia menuturkan pemimpin ke depan harus siap menghadapi beragam hal yang tidak bisa diprediksi. Pemimpin ke depan wajib bereaksi cepat terhadap perubahan, berorientasi pada hasil, dan mampu berkolaborasi.

    Lewat pelatihan yang diadakan perusahaan itulah, kata Jokowi, bisa muncul reformis atau pembawa perubahan sesuai harapan Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.