Faisal Basri Samakan Pembangunan Ekonomi ala Jokowi dan SBY

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faisal Basri menunjukkan medalinya usai mengikuti BRI Mekaki Marathon 2017 di kawasan pantai Mekaki, Sekotong, Lombok Barat, 30 April 2017. Dalam ajang marathon ini, peserta akan disuguhi pemandangan elok kawasan pantai di Sekotong, dan teluk Mekaki. Foto: Alfan Noviar

    Faisal Basri menunjukkan medalinya usai mengikuti BRI Mekaki Marathon 2017 di kawasan pantai Mekaki, Sekotong, Lombok Barat, 30 April 2017. Dalam ajang marathon ini, peserta akan disuguhi pemandangan elok kawasan pantai di Sekotong, dan teluk Mekaki. Foto: Alfan Noviar

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai tak ada perbedaan signifikan di bidang pembangunan ekonomi pada era Presiden Jokowi dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya. Hal ini khususnya terkait pusat perekonomian masih berkutat di wilayah Pulau Jawa. 

    Baca: Prabowo Kritik Jokowi: Hari Ini Bilang A, Besok Bilang Hal Beda

    "Jadi di era Pak Jokowi ini dan di era Pak SBY, share Jawa (kontribusi ke pertumbuhan ekonomi nasional) itu naik terus," kata Faisal di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis, 22 November 2018.

    Hal tersebut Faisal sampaikan dalam acara The Consumer Banking Forum "The Bank's Journey as a Platform and New Business Model: Menangkap Peluang di Tengah Ketidakpastian Global dan Tekanan Nilai Tukar Rupiah Serta Suku Bunga Tinggi. 

    Memang, kata Faisal, dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. "Tapi yang maju cuma Jawa," ujarnya. "Katanya ngomongnya akan dimulai dari pinggiran lah, kawasan timur, tidak ada itu. Share Jawa yang naik terus".

    Padahal, menurut Faisal, pemersatu pulau-pulau adalah laut. Dan pemerintah sudah membicarakan soal tol laut, namun hingga saat ini tidak ada efeknya terhadap biaya logistik.

    Hal tersebut terbukti dari porsi biaya logistik yang menempati urutan tertinggi. "Logistic cost tetap paling tinggi, 24 persen dari PDB, karena tidak terjadi shifting angkutan barang dari darat ke laut," ujar dia.

    Baca: Bambang Soesatyo: Relaksasi DNI Tak Sesuai dengan Visi Jokowi

    Masih tingginya porsi biaya logistik ini pula, menurut Faisal, menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari tol laut yang sering disebut-sebut pemerintahan Jokowi. "Karena 90 persen barang diangkut dengan truk melalui jalur darat." Padahal Indonesia merupakan negara maritim dan di dunia saat ini 70 persen barang diangkut dengan menggunakan kapal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Suara Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandiaga di Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum mencatat pasangan Jokowi - Ma'ruf menang di 21 provinsi, sedangkan Prabowo - Sandiaga unggul di 13 provinsi saat Pilpres 2019.