Bappenas Ungkap Alasan Pertumbuhan Ekonomi Stagnan di 5 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) berbincang dengan Menteri PPN / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro sebelum mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, 5 Maret 2018. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) berbincang dengan Menteri PPN / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro sebelum mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, 5 Maret 2018. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Depok - Staf Ahli Kementerian Pembangunan dan Perencanaan Nasional Kepala atau Bappenas, Bambang Priambodo mengatakan untuk jangka menengah, tantangan ekonomi terbesar di Indonesia adalah terobosan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selama beberapa tahun terakhir, kata Bambang, ekonomi tumbuh sedang hingga sekitar 5 persen.

    Simak: Bappenas: Defisit Transaksi Berjalan Cermin Ekonomi Domestik Bergerak

    Menurut Bambang, pertumbuhan ekonomi semakin memburuk jika Indonesia tidak melakukan apa-apa. Jika Indonesia ingin menjadi ekonomi berpenghasilan tinggi dalam dua dekade mendatang, kata Bambang, ekonomi perlu tumbuh hingga mendekati 6 persen.

    Karena itu, kata Bambang, Indonesia perlu mengisi kesenjangan 5 persen hingga 6 persen dengan reformasi kebijakan.

    "Berdasarkan diagnosis kami, cerita utama di balik pertumbuhan ekonomi yang stagnan adalah kisah produktivitas. Tingkat produktivitas Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara sebaya dan setelah krisis Asia, produktivitas kita tidak tumbuh tidak secepat negara sebaya," kata Bambang Priambodo di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin, 12 November 2018.

    Menggali lebih dalam, kata Bambang, Bappenas menemukan bahwa penggerak utama dari produktivitas rendah adalah masalah transformasi struktural. Bambang mengatakan lebih dari 30 persen tenaga kerja bekerja di sektor pertanian.

    "Selain itu, kami juga mengalami kemungkinan industrialisasi prematur. Meskipun pangsa industri manufaktur masih pada tingkat yang relatif tinggi, tetapi dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia, pangsa industri manufaktur kami turun terlalu dini," kata Bambang.

    Menurut Bambang, buruknya kinerja industri manufaktur memiliki dampak yang jelas terhadap kinerja perdagangan internasional.

    "Jika kita melihat apa yang kita ekspor, setelah 40 tahun, ekspor kita masih didominasi oleh komoditas. Pada 1970-an, Malaysia dan Thailand juga mengandalkan komoditas dalam ekspor mereka," kata Bambang.

    Namun, sekarang, kata Bambang, bagian terbesar dari ekspor mereka adalah elektronik.

    Sebelumnya, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2018 sebesar 5,17 persen. Angka tersebut tercatat lebih rendah ketimbang triwulan II 2018 yang mencapai 5,27 persen dan lebih tinggi ketimbang triwulan I 2018, yang sebesar 5,06 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,17 persen.

    Kepala BPS Suhariyanto berujar pertumbuhan pada triwulan ini sedikit lebih lambat ketimbang triwulan sebelumnya lantaran sebelumnya ada momen bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. "Itu biasanya puncak konsumsi rumah tangga dan transportasi," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin, 5 November 2018.

    Bambang yakin pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2018 sebesar 5,2 persen. Hal tersebut, kata Bambang, dilihat dari confident masyarakat terhadap geliat ekonomi.

    "Pertama kami lihat confident-nya terasa kuat, memang ada demand terhadap impor besar, tapi kalau dilihat confident, dari segi daya beli, kemudian dari investasi meskipun ada angka melambat dari BKPM," kata pimpinan Bappenas ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.