Rabu, 21 November 2018

PT INKA Sebut Produsen Kereta asal Cina Sebagai Pesaing Utama

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta LRT Palembang yang diproduksi oleh PT INKA (Persero) - Istimewa

    Kereta LRT Palembang yang diproduksi oleh PT INKA (Persero) - Istimewa

    TEMPO.CO, Palembang - Produsen kereta api dari Cina masih menjadi pesaing utama bagi PT INKA (Persero) dalam memenangkan pasar Asia, Afrika hingga Eropa. Sementara itu Jepang, Korea sudah mengakui keunggulan produk dari pabrikan di Madiun, Jawa Timur itu sehingga bukan menjadi ancaman lagi.

    Baca: Dalam Negeri Mulai Jenuh, PT INKA Garap Pasar Asia dan Afrika

    Demikian disampaikan oleh Direktur Utama PT INKA (Persero), Budi Noviantoro di hadapan wartawan. "Berbagai kesempatan (tender) misalnya kami selalu bertemu Cina," katanya, Selasa, 30 Oktober 2018.

    PT INKA merupakan produsen kereta api milik kementerian BUMN. Saat ini peluang pasar ekspor mengalahkan pasar dalam negeri. Menyikapi hal itu, Budi mengatakan pihaknya menggandeng Caterpilar Grup dalam hal mempercepat ekspansi pabrik yang berlokasi di Banyuwangi.

    Tidak tanggung-tanggung, perusahaan dari Amerika itu membawa modal hingga puluhan juta dolar AS. Bila pabrik Banyuwangi selesai, dia semakin optimis mengalahkan kompetitor seperti Cina. Awal tahun depan pabrik di Banyuwangi, Jawa Timur mulai dibangun oleh BUMN Karya.

    Di acara Editor's Day Bersama INKA, Budi menambahkan Saat ini INKA tengah menyelesaikan proses tender dan penawaran harga dari kontraktor dalam pembangunan pabrik berkapasitas 4 kereta per hari itu. Dia menjelaskan, kebutuhan dana untuk workshop baru tersebut sekitar Rp 1,3 triliun, INKA sendiri memiliki dana sekitar Rp 600 miliar yang berasal dari sisa penyertaan modal negara (PMN) di tahun 2016 lalu.

    Sementara kekurangannya akan dipenuhi oleh investor asal Amerika Serikat yakni Caterpillar Grup. "Caterpilar tertarik untuk berinvestasi untuk membangun pabrik khusus lokomotif termasuk peralatannya nilai investasinya sekitar US$ 30 juta," katanya.

    Budi memastikan awal tahun 2019 pembangunan tahap satu pabrik baru tersebut sudah bisa dimulai dengan masa pembangunan selama satu tahun. Pabrik baru tersebut, kata Budi, direncanakan mempunyai kapasitas terpasang 4 kereta per hari.

    Jumlah tersebut dua kali lipat dari rata-rata kapasitas pabrik lama di Madiun. Dengan peningkatan produksi ini ia memastikan akan mampu meng-cover pesanan ekspor yang terus meningkat seperti dari Sri Langka, Thailand, dan Filipina.

    Sementara itu secara terpisah I Ketut Astika selaku General Manajer Sekretaris PT INKA menjelaskan pihaknya sedang menyelesaikan ratusan pesan kereta dari berbagai negara seperti Bangladesh dengan nilai kontrak Rp 1,3 triliun dan Rp 750 miliar nilai kontrak kerjasama dengan Filipina. Proyek tersebut mulai berjalan bahkan beberapa di antara keretanya siap dikirim.

    Bangladesh memesan 350 unit kereta sedangkan Filipina memesan 3 lokomotif, 6 kereta berpenggerak, 15 kereta penumpang. Khusus pesanan Bangladesh berupa kereta penumpang ekonomi sebanyak 1 train set akan dikirim ke negara tersebut.

    Baca: PT INKA Kebut Pengerjaan 50 Kereta Pesanan Bangladesh

    Sementara pertengahan tahun depan, masyarakat Filipina ia pastikan sudah bisa merasakan karya dari PT INKA itu. "Selanjutnya menjajaki pasar Sri Lanka, Myanmar, Amerika Latin, dan negara di Afrika lainnya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.