Ekonom 'Luruskan' Klaim Prabowo soal Ekonomi Hidup Pas-pasan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden Prabowo Subianto menyapa perempuan-perempuan yang hadir dalam acara Deklarasi Emas di Lapangan Stadion Klender, Jakarta Timur, 24 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri

    Calon Presiden Prabowo Subianto menyapa perempuan-perempuan yang hadir dalam acara Deklarasi Emas di Lapangan Stadion Klender, Jakarta Timur, 24 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebut Calon Presiden Prabowo Subianto perlu mendefinisikan terlebih dahulu klausul 'hidup pas-pasan' yang ia gunakan dalam kritiknya. Menurut Faisal, Prabowo juga mesti memaparkan indikator-indikator dari kritiknya itu.

    Baca: Prabowo Sebut 99 Persen Masyarakat Hidup Pas-pasan, Ini Kata BPS 

    "Kalau yang dimaksud pas-pasan adalah orang miskin atau di sekitar garis miskin, maka jelas angkanya bukan 99 persen," ujar Faisal kepada Tempo, Jumat, 26 Oktober 2018.

    Faisal berujar definisi yang dikenal dalam statistik menurut Badan Pusat Statistik adalah penduduk di bawah garis kemiskinan, hampir miskin, dan rentan miskin. Berdasarkan data BPS, kata dia, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan adalah 25,9 juta orang alias 9,8 persen dari total penduduk.

    Masih berdasarkan data BPS, penduduk hampir miskin, ujar Faisal, tercatat 20,4 juta alias 8 persen dari total penduduk. Sementara penduduk rentan miskin ada 44,4 juta alias 17 persen. Apabila angka itu dijumlahkan, maka totalnya adalah 34,8 persen.

    Prabowo sebelumnya mengatakan 99 persen masyarakat Indonesia berada pada ekonomi pas-pasan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara deklarasi emak-emak Binangkit relawan Prabowo-Sandi di Pendopo Inna Heritage Hotel Denpasar, Bali, pada Jumat pekan lalu.

    Menurut Prabowo, setelah 73 tahun Indonesia merdeka, yang kaya semakin sedikit dan hanya segelintir orang saja. Ia mengatakan bahwa pernyataannya merupakan data fakta yang diakui oleh Bank Dunia.

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira juga ikut membantah pernyataan Prabowo. "Datanya tidak seperti itu," kata Bhima.

    Bhima lantas mengutip data BPS mengenai pengeluaran penduduk Indonesia. Berdasarkan data itu, masyarakat diklasifikasikan kepada tiga kelompok, yaitu kategori pengeluaran terbawah, kelas menengah dan paling kaya,

    "Sebanyak 40 persen kategori pengeluaran terbawah berkontribusi 17,3 persen terhadap total pengeluaran penduduk. Sementara 40 persen kelas menengah kontribusinya 36,6 persen dan 20 persen penduduk paling kaya kontribusi nya 46,1 persen," kata Bhima.

    Kalau yang dimaksud oleh Prabowo sebagai hidup pas-pasan adalah kombinasi orang miskin dan menengah, ujar Bhima, maka totalnya menjadi 53,9 persen. "Jadi bukan 99 persen seperti yang Pak Prabowo bilang."

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.