Selasa, 20 November 2018

Prabowo tentang Ekonomi Rakyat Pas-pasan, Ini Data Credit Suisse

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara proyek pembangunan jembatan Teluk Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 18 Oktober 2018. Jembatan Teluk Kendari dibangun untuk menunjang sistem jaringan jalan dari kota lama di sisi utara menuju Poasia di sisi selatan Teluk Kendari dan sebaliknya. ANTARA FOTO/Jojon

    Foto udara proyek pembangunan jembatan Teluk Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 18 Oktober 2018. Jembatan Teluk Kendari dibangun untuk menunjang sistem jaringan jalan dari kota lama di sisi utara menuju Poasia di sisi selatan Teluk Kendari dan sebaliknya. ANTARA FOTO/Jojon

    TEMPO.CO, Jakarta - Pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa 99 persen masyarakat Indonesia berada pada ekonomi pas-pasan menuai reaksi dari banyak pihak. Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxtation Analysis atau CITA, Yustinus Prastowo, salah satunya.

    Baca: Prabowo Sebut 99 Persen Masyarakat Hidup Pas-pasan, Ini Kata BPS

    Prastowo menyebutkan, kesejahteraan tiap orang dewasa di Indonesia meningkat hampir 4 kali dibanding posisi tahun 2000. "Dan rata-rata wealth (kekayaan) orang dewasa adalah USD 8.920 atau Rp 133 juta/thn (kurs Rp 15.000 per dolar AS) Pas-pasan ya? Pas buat apa sih? @prabowo @Dahnilanzar," kata Prastowo melalui akun Twitter miliknya yakni @prastow yang dikeluarkan pada Rabu, 24 Oktober 2018.

    Pernyataan Prastowo itu didasarkan pada data Global Wealth Report 2018 yang dirilis oleh Credit Suisse. Credit Suisse merupakan salah satu bank investasi dan manajemen investasi terkemuka di dunia yang berasal dari Swiss yang telah ada sejak 1856.

    Hingga hari ini, Jumat, 26 Oktober 2018 ini, twit tersebut telah mendapat 125 kali retweet dan disukai sebanyak 153 akun serta telah mendapat komentar dari 25 akun twiter yang lain. Melalui akunnya, Prastowo mengeluarkan serangkaian twitter untuk menanggapi pernyataan Prabowo tersebut. 

    Berdasar pada data itu pula, Prastowo mengatakan bahwa hanya ada 0,1 persen penduduk yang kekayaannya di atas US$ 1 juta. Selain itu tercatat, sebanyak 0,8 persen memiliki kekayaan sebesar US$ 100 ribu hingga US$ 1 juta. Ada sebanyak 13,7 persen memiliki kekayaan US$ 10 ribu sampai US$ 100 ribu.

    "Dan ada 85,4 persen yang kekayaannya di bawah US$ 10 ribu. Serta rata-rata US$ 8.920. Mana yang 99 persen pas-pasan ya?" cuit Prastowo.

    Prastowo juga menyampaikan bahwa kelompok-kelompok dewasa itu lebih banyak memiliki aset riil seperti emas dan tanah bukan saham atau reksadana maupun obligasi di sektor keuangan. Dengan kepemilikan utang yang sangat kecil atau rata-rata mencapai US$ 736 atau senilai Rp 11 juta.

    Prabowo sebelumnya mengatakan 99 persen masyarakat Indonesia berada pada ekonomi pas-pasan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara deklarasi emak-emak Binangkit relawan Prabowo-Sandi di Pendopo Inna Heritage Hotel Denpasar, Bali, pada Jumat pekan lalu.

    Menurut Prabowo, 73 tahun Indonesia merdeka, yang kaya semakin sedikit dan hanya segelintir orang saja. Ia mengatakan bahwa pernyataannya merupakan data fakta yang diakui oleh Bank Dunia.

    Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto enggan berkomentar banyak mengenai ucapan calon presiden Prabowo Subianto bahwa 99 persen masyarakat Indonesia berada pada ekonomi pas-pasan. Sebab, ia belum melihat sumber data yang dipergunakan oleh Ketua Umum Gerindra itu.

    "Kalau misalnya ada yg bilang dia bikin statement dari BPS atau dari Bank Dunia, atau IMF, tapi saya nggak melihat wujudnya (datanya) saya tidak akan komentar," ujar Suhariyanto di Sekolah Tinggi Ilmu Statistika, Jakarta, Kamis, 25 Oktober 2018.

    Sedangkan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko ikut mengomentari pernyataan dari bekas Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu. Menurut dia, mengacu kepada data BPS, kemiskinan di Indonesia saat ini sudah menurun dan berada pada kondisi terbaik lantaran mencapai satu digit saja.

    Baca: Soal Kemiskinan Indonesia, Ada Lima Kritik Pedas Prabowo

    Moeldoko mengatakan komentarnya itu didasari data yang tidak sembarangan. "Kita bicara by data, bukan by nyeplos. Kita ini kan dikontrol semua orang. Kalau pemerintah bicara sembarangan, enggak bisa. Karena dikontrol oleh semua. Bank dunia atau semuanya ya ngetawain," ujar dia.

    Simak berita terkait Prabowo hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.