Survei: Pertumbuhan Global Tahun Depan Diprediksi Lesu

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara proyek pembangunan jembatan Teluk Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 18 Oktober 2018. Dengan adanya jembatan Teluk Kendari diharapkan pertumbuhan ekonomi daerah meningkat sehingga dapat membantu proses percepatan pembangunan di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Jojon

    Foto udara proyek pembangunan jembatan Teluk Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 18 Oktober 2018. Dengan adanya jembatan Teluk Kendari diharapkan pertumbuhan ekonomi daerah meningkat sehingga dapat membantu proses percepatan pembangunan di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Jojon

    TEMPO.CO, Jakarta - Prospek pertumbuhan global pada tahun 2019 meredup untuk pertama kalinya. Perang perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China termasuk pengetatan kondisi keuangan diprediksi akan memicu penurunan berikutnya.

    Baca: Sri Mulyani: Ekonomi Bali Naik, Bakal Lampaui Biaya IMF - WB

    Jajak pendapat Reuters yang dilakukan bulan ini terhadap lebih dari 500 ekonom menunjukkan penurunan prospek untuk 18 dari 44 negara yang disurvei. Sementara itu, 23 negara tidak mengalami perubahan prospek dan hanya tiga negara yang prospeknya sedikit ditingkatkan.

    Padahal, pada awal 2018, optimisme tentang prospek ekonomi global yang kuat hampir merata di antara para responden. Meski risiko dari proteksionisme perdagangan telah secara konsisten disorot oleh jajak pendapat Reuters sejak Januari tahun lalu, jajak pendapat terbaru menunjukkan pertumbuhan pada sekitar 70 persen dari 44 negara yang disurvei telah mencapai puncaknya.

    “Sebuah dinamika sederhana sedang bermain dalam ekonomi global saat ini, yakni AS yang mengalami booming, sedangkan sebagian besar belahan dunia lainnya melambat atau bahkan stagnan. Tekanan yang disebabkan oleh perbedaan ini terlihat pada banyak pasar negara berkembang,” ujar Janet Henry, kepala ekonom global di HSBC, seperti dikutip Reuters, Senin, 22 Oktober 2018.

    Langkah bank sentral AS The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga untuk mencegah perekonomian AS dari overheating menghambat opsi kebijakan negara-negara di mana kondisi keuangan mengencang dan ketegangan perdagangan meningkat.

    Pergeseran terbaru dalam ekspektasi pertumbuhan datang akibat aksi jual yang mendalam di pasar keuangan, terutama negara berkembang, sebagian besar didorong oleh kekhawatiran perdagangan.

    Mayoritas dari hampir 150 ekonom mengatakan dua pemicu utama bagi penurunan global yang akan datang merupakan eskalasi lebih lanjut dari ketegangan perdagangan antara AS dan China. Selain itu, ada pula pengetatan dalam kondisi keuangan yang didorong oleh aksi jual dalam ekuitas global atau kenaikan dengan laju cepat dalam imbal hasil obligasi pemerintah.

    “Pertama, tidak akan ada pemenang dari perang perdagangan global,” kata Neil Shearing, kepala ekonom di Capital Economics. “[Ini] ... dapat menyebabkan kerusakan permanen pada pertumbuhan dan menyebabkan hilangnya output secara permanen.”

    Mayoritas ekonom yang mencakup ekonomi AS mengatakan kebijakan ekonomi AS terhadap China selama beberapa tahun ke depan akan menjadi lebih konfrontatif.

    Seiring dengan kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan dibandingkan dengan jajak pendapat sebelumnya, hal itu menunjukkan perlambatan substansial dalam perekonomian AS pada akhir tahun depan, meskipun masih menjadi pendorong utama pertumbuhan global saat ini.

    “Risiko luka yang ditimbulkan di AS meningkat. Risiko penurunan yang dominan terhadap prospek global tetap merupakan upaya pemerintahan Trump untuk menyeimbangkan kembali perdagangan dengan China melalui kebijakan tarif,” ujar Jean-François Perrault, kepala ekonom di Scotiabank.

    “Konsekuensi dari eskalasi tindakan perdagangan tidak dapat disangkal, harga yang lebih tinggi di China dan AS, daya beli yang lebih rendah bagi konsumen di negara-negara ini, biaya input yang lebih tinggi, volatilitas pasar keuangan yang meningkat, dan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi. Efek ini kemungkinan akan menyebar dari negara-negara ini.”

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?