Sudirman Said: Angka Kemiskinan BPS Tunjukkan Masyarakat Rentan

Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said saat menyambangi kantor Balikota DKI Jakarta, Selasa, 26 Juni 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Materi dan Debat, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Sudirman Said, menilai angka kemiskinan yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan kondisi riil bahwa masyarakat rentan secara ekonomi. Ia menilai jumlah orang yang masuk kategori miskin sebesar 25 juta orang adalah ukuran yang sangat mendasar.

Baca: Sudirman Said: Jokowi Ganti Bos Pertamina Seperti Copot Ketua RT

"Penghasilan Rp 13 ribu per hari hari per orang dianggap ada stratanya hampir miskin, rentan miskin, dan lainnya," kata Sudirman Said, di Gedung Pakarti Centre, Jakarta, Kamis, 18 Oktober 2018. 

Hitungan pendapatan per kapita sebesar Rp 13 ribuan per bulan itu didasari pada hasil survei BPS per Maret 2018. BPS mencatat pendapatan per kapita atau garis kemiskinan negara, naik 3,63 persen dari Rp 387.160 per kapita per bulan pada September 2017 menjadi Rp 401.220 per kapita per bulan pada Maret 2018.

Namun, kata Sudirman Said, jika angka pendapatan itu dinaikkan setengah kali lipat, jumlah penduduk miskin bisa melonjak hingga menjadi 97 juta orang. "Belum sampai standar World Bank, jumlah yang miskin itu sebetulnya mencapai 97 juta," ucapnya. "Sesuatu yang sangat rentan, jika terjadi hantaman krisis itu betul-betul membuat sebagian besar masyarakat kita mengalami kesulitan."

Mantan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini juga mengkritik data BPS yang menyebutkan jumlah pengangguran terbuka hanya sekitar 5 juta orang. Sebab dari perhitungannya, lebih dari 40 juta orang masuk dalam kategori setengah menganggur, 3/4 menganggur, bahkan 4/5 menganggur.

Hal itu, kata Sudirman, berpatokan pada asumsi BPS bahwa siapapun yang bekerja lebih dari 2 jam per minggu dan mendapatkan upah, maka dia masuk dalam kelompok punya pekerjaan. "Padahal kalau dibayangkan orang bekerja 2 jam per seminggu itu dapat apa?" ucapnya.

Lebih lanjut Sudirman mengatakan angka BPS mengatakan 58 persen pekerja itu masuk pekerja informal, pengemudi ojek, warung kecil dan lainnya. "Dari situ dikaitkan dengan kemiskinan, sebetulnya kita punya basis yang rentan dan kembali itu tugas kita bersama," katanya.

Soal angka kemiskinan versi BPS ini sebelumnya juga dikritik oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. SBY menyatakan ada 100 juta penduduk miskin di Indonesia. Angka tersebut merujuk pada total 40 persen penduduk berpendapat rendah dari 263 juta penduduk.

Sementara BPS mencatat angka kemiskinan turun dalam lima tahun terakhir. Pada 2 Januari 2018 lalu, BPS merilis data kemiskinan penduduk Indonesia per September 2017. Dari data itu, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2017 tercatat mencapai 26,58 juta orang atau sekitar 10,12 persen dari 268 juta lebih penduduk.

Jika ditarik hingga 5 tahun ke belakang, jumlah ini menurut data yang dikoleksi BPS, sudah mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin pada September 2012 tercatat mencapai 28,71 juta atau sekitar 11,66 persen. Artinya, penduduk miskin berkurang hingga 2,13 juta atau sekitar 7,4 persen.

Baca: Sudirman Said: Baru 4 Tahun, Jokowi Sudah Ganti 27 Menteri

Sebelumnya Sudirman Said juga mengkritik pemerintahan Jokowi yang sering mengganti direktur utama PT Pertamina (Persero). Tak hanya itu, ia juga mempersoalkan Presiden Jokowi yang mengganti 27 menterinya selama 4 tahun menjabat.






Targetkan Pengembangan Karier Anak Muda, Bank Ini Rilis BYLI

4 jam lalu

Targetkan Pengembangan Karier Anak Muda, Bank Ini Rilis BYLI

Peningkatan kapabilitas karyawan itu dilakukan demi mempersiapkan anak muda untuk menjadi pemimpin di masa depan.


Jokowi Klaim RI Tak Lagi Impor Beras tapi BPS Masih Mencatat, Ini Penjelasannya

10 jam lalu

Jokowi Klaim RI Tak Lagi Impor Beras tapi BPS Masih Mencatat, Ini Penjelasannya

Persoalan data impor beras kembali mencuat setelah Presiden Jokowi mengatakan Indonesia sudah tidak lagi pernah impor beras sejak 3 tahun terakhir.


BPS: Impor Indonesia Naik Jadi USD 21,35 Miliar pada Juli 2022

11 jam lalu

BPS: Impor Indonesia Naik Jadi USD 21,35 Miliar pada Juli 2022

Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor Indonesia pada Juli 2022 mencapai US$ 21,35 miliar.


BPS: Neraca Perdagangan Surplus USD 4,23 Miliar, Tren 27 Bulan Berturut-turut

13 jam lalu

BPS: Neraca Perdagangan Surplus USD 4,23 Miliar, Tren 27 Bulan Berturut-turut

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 4,23 miliar pada Juli 2022.


Ekspor Indonesia Turun jadi USD 25,57 Miliar pada Juli 2022, Ini Sebabnya

14 jam lalu

Ekspor Indonesia Turun jadi USD 25,57 Miliar pada Juli 2022, Ini Sebabnya

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia per Juli 2022 sebesar US$ 25,57 miliar atau turun 2,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya.


Ekonom Sebut Garis Kemiskinan Meningkat Jika Harga Mi Instan Naik

1 hari lalu

Ekonom Sebut Garis Kemiskinan Meningkat Jika Harga Mi Instan Naik

Bhima Yudhistira mengatakan jika harga mi instan naik tiga kali lipat seperti proyeksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, maka akan berisiko pada kenaikan garis kemiskinan.


Raih Penghargaan International Rice Research, Jokowi Klaim Produksi Beras Tahun Ini 10,2 Juta Ton

1 hari lalu

Raih Penghargaan International Rice Research, Jokowi Klaim Produksi Beras Tahun Ini 10,2 Juta Ton

Jokowi menjelaskan, terjaganya stok beras di Tanah Air merupakan hasil dari pembangunan infrastruktur penyokong pertanian sejak tahun 2015.


Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Naik 5,59 Persen, Lebih Tinggi dari Pertumbuhan Nasional

6 hari lalu

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Naik 5,59 Persen, Lebih Tinggi dari Pertumbuhan Nasional

Tren positif pertumbuhan ekonomi Jakarta terus berlanjut hingga kuartal II tahun 2022. Didorong terus meningkatnya mobilitas warga.


Mendag Sebut Pertumbuhan Ekspor 19,47 Persen Menopang Ekonomi Triwulan II

7 hari lalu

Mendag Sebut Pertumbuhan Ekspor 19,47 Persen Menopang Ekonomi Triwulan II

Mendag menyampaikan kinerja ekspor Indonesia pada triwulan II tumbuh sebesar 19,74 persen.


Sektor Transportasi Tumbuh 21,27 Persen, Menhub Berharap Tren Meningkat hingga Akhir 2022

7 hari lalu

Sektor Transportasi Tumbuh 21,27 Persen, Menhub Berharap Tren Meningkat hingga Akhir 2022

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor transportasi dan pergudangan berhasil tumbuh 21,27 persen.