Rabu, 24 Oktober 2018

Pertamina Sebut Pemasokan Elpiji ke Bali Sudah Pulih

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pengisian gas Elpiji tabung 3 kg di Depot LPG Tanjung Priok, Jakarta, 21 Mei 2018. Depot ini mampu mendistribusikan Elpiji 3 kg sebanyak 66.000 tabung per harinya dengan pendistribusian wilayah DKI Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pengisian gas Elpiji tabung 3 kg di Depot LPG Tanjung Priok, Jakarta, 21 Mei 2018. Depot ini mampu mendistribusikan Elpiji 3 kg sebanyak 66.000 tabung per harinya dengan pendistribusian wilayah DKI Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, JakartaPertamina menyatakan pemasokan LPG atau elpiji di Bali sudah mulai pulih setelah sempat mengalami keterlambatan pasokan selama sekitar tiga minggu terakhir karena terdampak gelombang tinggi.

    Baca jugaPertamina Siapkan Dua Skema Penyaluran Elpiji 3 Kilogram

    "Seiring dengan waktu dan cuaca yang sudah mulai membaik, saat ini kami sudah memasuki tahap pemulihan. Kapal sudah mulai bisa sandar secara normal dan pola pasokan normal sudah bisa dijalankan kembali," kata perwakilan Pertamina Pemasaran Bali Rainier Axel Gultom di Denpasar, Kamis, 9 Agustus 2018.
     
    Rainier yang membidangi penjualan elpiji di Bali menjelaskan, selama masa pemulihan pihaknya mengadakan pasar murah LPG 3 kilogram (kg) serentak pada Kamis ini, 9 Agustus 2018, di seluruh kecamatan di Pulau Dewata. Harga per tabung untuk LPG melon tersebut dalam pasar murah dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi di Bali, yakni Rp 14.500.

    Pertamina mencatat rata-rata penyaluran produk LPG subsidi 3 kg sebanyak 630 metrik ton per hari dan bright gas 5,5 kg dan 12 kg sebanyak 40 metrik ton per hari.

     
    Baca jugaIsi Ulang Elpiji Bright Gas 3 Kg Dijual Rp 39 Ribu per Tabung

    Sebelumnya, cuaca buruk seperti gelombang tinggi di laut yang terjadi beberapa hari terakhir turut mempengaruhi distribusi LPG. Bahkan gelombang tinggi di perairan Bali sempat mencapai 4-6 meter, berdasarkan prakiraan BMKG.

     
    Rainier mengatakan, kapal pengangkut LPG beberapa kali gagal sandar di Depo LPG Manggis, Karangasem, meski saat itu kapal sudah berlabuh. Pertimbangan syarat keamanan dalam proses sandar dan bongkar muatan, kata dia, tidak memungkinkan kapal LPG tersebut untuk mendekat karena ombak dan arus yang kencang.
     
    Untuk mengantisipasi kondisi tersebut dan menjaga pasokan aman, Pertamina menjalankan pola penyaluran darurat dengan mengalihkan pengisian tangki LPG atau skid tank melalui Depo LPG Banyuwangi karena kondisi perairan masih lebih memungkinkan untuk dilalui. Namun, lanjut Rainier, pola tersebut menyebabkan waktu dan jarak tempuh menjadi lebih lama sehingga mengakibatkan penyaluran LPG dari Stasiun Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE) ke agen mengalami pembatasan.
     
    Normalnya, jarak tempuh yang biasa dilalui mencapai 5-6 jam pulang pergi (PP). Namun, dengan pola darurat melalui Depo Banyuwangi, jarak tempuh menjadi sekitar 10-12 jam PP. "Saat ini pasokan sudah dari Depo LPG di Manggis, Karangasem, " kata Rainier.
     
    ANTARA

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.