Rabu, 24 Oktober 2018

Lion Air dan Perusahaan Tommy Soeharto Siap Melantai di Bursa

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Thai Lion Air. ch-aviation.com

    Thai Lion Air. ch-aviation.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah perusahaan besar dari berbagai sektor berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dua di antaranya maskapai penerbangan PT Lion Mentari Airlines atau Lion Air dan anak usaha PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS), PT Humpuss Transportasi Kimia. Humpuss Intermoda Transportasi adalah salah satu perusahaan milik Tommy Soeharto. 

    Baca: Pilot Lion Air Tewas Kecelakaan di Madinah

    Selain kedua perusahaan itu, masih ada beberapa yang berminat mencatatkan sahamnya di pasar modal, yakni perusahaan rumah sakit Columbia Asia, produsen cat PT Propan Raya ICC, dan Bank DKI.

    Perusahaan-perusahaan tersebut diketahui tengah mengikuti kelas persiapan initial public offering (IPO), yang digelar perusahaan jasa Ernst & Young (EY) Indonesia. "Ada Lion Air, Columbia Asia, Propan, Bank DKI, Humpuss Kimia. Mereka berminat (IPO) atau paling tidak owner mereka sudah mempersiapkan untuk IPO. Kalau mereka mengikuti kegiatan ini, berarti dari owner-nya sudah siap (IPO)," kata Partner Assurance Services EY Jongki Widjaja di BEI, Rabu, 25 Juli 2018.

    Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Lion Air. Pasalnya, perusahaan itu adalah perusahaan jasa penerbangan yang memiliki armada terbanyak di Indonesia dengan rute penerbangan yang terbilang lengkap.

    Jongki juga menilai perusahaan ini cukup seksi. Selama ini, kata dia, akses pendanaan perseroan selalu diperoleh dari perbankan atau mekanisme konvensional lain. "Mungkin sekarang mereka melihat IPO sebagai cara terbaik," ujarnya.

    Terkait dengan waktu dari pelaksanaan IPO, Jongki mengaku belum mendapat informasi. Sebab, perusahaan biasanya membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk mengeksekusi pencatatan saham di pasar modal.

    Perusahaan harus melakukan konsultasi dengan penjamin emisi alias underwriter untuk menentukan harga dan jadwal. Sementara itu, jadwal IPO juga sangat bergantung pada kondisi market. "Kalau perusahaan bagus tapi market kurang bagus, sahamnya sulit naik," ucap Jongki.

    Sebenarnya, ada banyak perusahaan yang mengikuti kelas persiapan IPO ini. Namun belum ada kepastian apakah perusahaan-perusahaan tersebut bakal melantai di bursa dalam waktu dekat.

    Perusahaan itu antara lain Indivara Group, Elzatta, Izone, Inertia Utama, Titan Infra Energy, Amman Mineral Nusa Tenggara, Medco Power Indonesia, Rumah Sakit Awal Bros, PT Sentra Untung Investama, serta PT Prestise Indojaya.

    Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan perusahaan yang mengikuti kelas persiapan itu beberapa di antaranya memang telah siap melakukan IPO.

    "Yang ikut kelas ini sudah siap untuk submit. Tapi tentunya akan ada proses, tidak bisa langsung," tuturnya.

    Sementara itu, Lany D. Wong, Chief Financial Officer (CFO) PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), yang merupakan salah satu pemegang saham Awal Bros, menuturkan pihaknya masih belum ada rencana dalam waktu dekat untuk membawa rumah sakit itu ke pasar modal.

    Namun dia berujar Awal Bros akan terus melakukan ekspansi dengan menambah 10 unit jaringan baru dalam tiga tahun. "Dalam rencana, 10 rumah sakit itu tiga tahun, berarti selama itu masih belum (IPO)," katanya.

    BISNIS

    Baca berita lain tentang Lion Air di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.