OJK: Sektor Jasa Keuangan dan Likuiditas Tetap Terjaga

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Perekonomian Darmin Nasution (tengah), (dari kiri) Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah berbincang sebelum memberikan keterangan pers di kantor Kemenkeu, Jakarta, 28 Mei 2018. Pemerintah memastikan adanya penguatan koordinasi dan implementasi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi serta keberlanjutan reformasi. TEMPO/Tony Hartawan

    Menko Perekonomian Darmin Nasution (tengah), (dari kiri) Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah berbincang sebelum memberikan keterangan pers di kantor Kemenkeu, Jakarta, 28 Mei 2018. Pemerintah memastikan adanya penguatan koordinasi dan implementasi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi serta keberlanjutan reformasi. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan menilai stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga. Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Anto Prabowo mengatakan indikator terkini menunjukkan akselerasi pertumbuhan ekonomi global berlanjut, dengan negara maju menjadi motor penggerak utama terutama perekonomian Amerika Serikat (AS).

    "Namun, momentum perbaikan perekonomian global dibayangi oleh kenaikan suku bunga kebijakan Amerika Serikat, krisis politik Italia dan kembali menguatnya tensi perang dagang, yang memberi sentimen negatif pada pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Anto Prabowo dalam keterangan tertulis, Jumat, 30 Juni 2018.

    Menurut Anto gejolak di pasar global mendorong IHSG pada Mei 2018 melemah tipis sebesar 0,18 persen dan ditutup di level 5983.6, dengan investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp6,45 triliun.

    Di pasar SBN yield SBN tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing naik sebesar 46,3 basis poin, 25,2 bps, dan 27,8 bps. Sedangkan pada April 2018 rata-rata meningkat 21 bps. Investor nonresiden, kata Anto mencatatkan net sell di pasar SBN sebesar Rp 11,5 triliun.

    "Di tengah perkembangan pasar keuangan tersebut, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Mei 2018 terus menunjukkan perbaikan," kata Anto.

    Anto mengatakan kredit perbankan tumbuh sebesar 10,26 persen year on year, sedangkan April 2018, sebesar 8,94 persen yoy. Piutang pembiayaan tumbuh 6,37 persen yoy, sedangkan April 2018, sebesar 6,36 persen yoy.

    Menurut Anto perbaikan kinerja intermediasi ini didukung oleh pertumbuhan positif Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang tercatat sebesar 6,47 persen yoy. Sementara, premi asuransi jiwa dan asuransi umum atau reasuransi masing-masing tumbuh tinggi sebesar 31,49 persen dan 19,28 persen yoy.

    Di pasar modal, kata Anto penghimpunan dana di pasar modal sampai dengan 22 Juni 2018 mencapai Rp 89,3 triliun, meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 60 triliun.

    Emiten baru tercatat sebanyak 20 perusahaan, sedangkan Januari hingga Mei 2017, sebanyak 10 perusahaan.

    "Total dana kelolaan investasi hingga 22 Juni 2018 telah mencapai Rp 729,3 triliun. Di tengah sentimen yang mewarnai pasar keuangan domestik, risiko LJK (risiko kredit, pasar, dan likuiditas) masih terjaga pada level yang manageable," kata Anto.

    Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan, kata Anto tercatat sebesar 2,79 persen, sedangkan pada Apr 2018 sebesar 2,79 persen. Rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 3,12 persen, sedangkan pada April 2018, yaitu 3,01 persen.

    Anto mengatakan permodalan LJK juga terjaga robust dengan CAR perbankan sebesar 22,45 persen serta RBC asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 319 persen dan 442 persen.

    "OJK akan terus memantau dinamika perekonomian global dan domestik, khususnya terkait laju kenaikan FFR, tren kenaikan suku bunga, dan perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok," kata Anto.

    Menurut Anto, OJK juga mempersiapkan serangkaian kebijakan untuk memastikan stabilitas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan domestik tetap terjaga di tengah peningkatan volatilitas pasar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.