Jusuf Kalla Ungkap Tantangan Menghadapi Revolusi Industri

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berbuka puasa bersama pengurus Dewan Masjid Indonesia (MDI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 25 Mei 2018. Foto: Biro Pers Wakil Presiden

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berbuka puasa bersama pengurus Dewan Masjid Indonesia (MDI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 25 Mei 2018. Foto: Biro Pers Wakil Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menekankan pentingnya perubahan sikap dan pengetahuan dalam mengimplementasikan teknologi. Sebab, kata JK, peranan manusia, pekerja, dan inovasi merupakan inti kemajuan industri sebagai ciri Indonesia dalam memajukan bangsanya.

    "Kita harus menggabungkan hal-hal tersebut untuk menjadikan suatu sikap atau menjadi ciri kebangsaan kita," kata JK dalam seminar penguatan pemimpin Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Juni 2018.

    Baca juga: Wujudkan Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Tetapkan 10 Prioritas

    JK menuturkan banyak negara telah melakukan perubahan dalam menghadapi revolusi industri. Singapura dan Cina, misalnya. Mereka kini lebih banyak menggunakan teknologi lebih tinggi.

    Menurut JK, Singapura sebelumnya hanya menjadi tempat belajar. Namun kini Singapura menjadi tempat mengembangkan riset untuk mencapai sistem nasional dalam memenuhi kebutuhan bangsanya.

    Simak pula: Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Bentuk Komite Industri Nasional

    Negara yang memiliki teknologi tinggi, kata JK, bisa memenangi persaingan dalam dunia global karena dapat menghasilkan produk yang lebih baik, murah, dan cepat. Namun, JK mempertanyakan, siapa yang akan menjadi konsumen dan mendapat pendapatannya jika semua industri menggunakan automation atau robot.

    "Karena apabila kita membuat sesuatu, mesti kita mencari pembeli. Apabila pembelinya semua robot, yang bekerja semua robot, semua automation, siapa yang berpenghasilan? Dan siapa yang menjadi konsumen produk tersebut?" ucapnya.

    Lihat pula: Apindo Harap Pemerintah Jelaskan Rinci Tantangan Industri 4.0

    Kondisi perubahan industri yang terjadi di Indonesia juga diikuti dengan kemajuan di bidang pertanian, yang selalu menjadi kebutuhan dasar bangsa. JK mengatakan kemajuan dan kebutuhan ekonomi dasar tetap menjadi bagian dari ekonomi. Sehingga ekonomi Indonesia pun menjadi ekonomi campuran.

    "Ada yang maju, tapi lain pihak juga menjaga masyarakat untuk bekerja dan mendapatkan pendapatan yang baik, sehingga dapat membeli produk yang dihasilkan oleh sistem robotik," ujar Jusuf Kalla.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.