Laba Tiga BUMN Moncer, Kementerian BUMN: Keselamatan Prioritas

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT Unilever membuka sesi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada 35 tahun emiten tersebut tercatat di BEI. DESTRIANITA

    PT Unilever membuka sesi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada 35 tahun emiten tersebut tercatat di BEI. DESTRIANITA

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana  Prasarana Perhubungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ahmad Bambang menyampaikan apresiasinya atas pencapaian tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi yang sukses membukukan kinerja positif sepanjang 2017.

    Tiga BUMN Konstruksi tersebut adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. PT Waskita Karya, mencetak laba terbesar, Rp4,20 triliun pada 2017. Kemudian diikuti PT Adhi KaryaTbk dan PT Wijaya Karya Tbk, masing-masing Rp517,06 miliar; dan Rp1,36 triliun.

    "Apresiasi yang tinggi kami berikan kepada ketiga BUMN tersebut, karena turut mewujudkan target pembangunan infrastruktur sebagai proyek strategis nasional," kata Ahmad Bambang lewat keterangannya pada Senin, 26 Maret 2018.

    Simak: Tahun Ini, Setoran BUMN Diperkirakan Rp 205 Triliun

    Kendati demikian, Ahmad Bambang melanjutkan, pertumbuhan yang cepat dan tinggi, harus pula diimbangi dengan kesiapan organisasi dan sistem pendukungnya, dimana keduanya berujung pada kesiapan sumber daya manusia (SDM). Aspek kualitas hasil kerja serta keselamatan kerja harus dijadikan prioritas utama, sebagaimana aspek kesehatan dan kelestarian lingkungan. Selain itu, penataan manajemen QHSE (quality, health, safety & environment) mutlak diperlukan agar dapat segera berproses dan menjadi budaya kerja korporat.

    "Karena, keselarasan profit, people, dan planet inilah yang akan menjamin daya kebersinambungan (sustainability) perusahaan," ujarnya.

    Berdasarkan laporan tahunan tahun 2017 yang telah diaudit, Waskita Karya mampu mencetak laba sebesar Rp4,20 triliun pada 2017. Angka ini melonjak 132,04 persen dibandingkan laba yang dicapai tahun sebelumnya sebesar Rp1,81 triliun. Pendapatan usaha meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2016, menjadi sebesar Rp45,21 triliun. Kenaikan pendapatan itu didorong oleh kenaikan dari jasa konstruksi sebesar 90 persen menjadi Rp42,30 triliun.

    Adapun, Adhi Karya mencatat pertumbuhan laba sepanjang 2017 sekitar 64,09% atau menjadi Rp517,06 miliar, dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp315,11 miliar. Pendapatan usaha perseroan ini meningkat dari perolehan tahun sebelumnya Rp11,13 triliun menjadi Rp15,39 triliun. Kenaikan pendapatan Adhi Karya pada tahun 2017 didorong oleh pendapatan segmen jasa konstruksi yang naik 41 persen menjadi Rp13 triliun dari sebelumnya Rp9,2 triliun pada tahun 2016. Segmen ini menyumbang 85 persen nilai pendapatan.

    BUMN selanjutnya, Wijaya Karya berhasil membukukan laba sebesar Rp1,36 triliun pada 2017. Pendapatan perusahaan pada 2017 naik 63,12 persen menjadi Rp26,18 triliun, dari Rp16,05 triliun pada 2016. Kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan dari segmen infrastruktur dan gedung sebesar 131 persen menjadi Rp17,1 triliun dari Rp7,4 triliun pada 2016.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.