Salah Kelola Data 50 Juta Pengguna, Bos Facebook Akui Bersalah

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mark Zuckerberg kerap memakai warna kaus abu-abu dalam setiap acara apapun. (Wikipedia Commons)

    Mark Zuckerberg kerap memakai warna kaus abu-abu dalam setiap acara apapun. (Wikipedia Commons)

    TEMPO.CO, Jakarta - Chief Executive Officer Facebook Inc. Mark Zuckerberg mengakui perusahaannya telah berbuat salah dalam mengelola data milik 50 juta pengguna akun. Ia berjanji akan mengambil sikap tegas untuk membatasi akses pengembang terhadap informasi tersebut.

    Facebook tengah mendapat pengawasan ketat dari legislator Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pasalnya, perusahaan jejaring sosial itu dimanfaatkan oleh perusahaan konsultan politik AS yang berbasis di London, Cambridge Analytica, dengan menyalahgunakan data pengguna Facebook untuk pemenangan pemilihan presiden AS 2016.

    Zuckerberg, dalam satu pernyataan terbukanya di depan publik sejak skandal itu muncul, mengakui “berbuat salah dan masih banyak yang harus dilakukan dan akan terus melakukan perbaikan”, sebagaimana dikutip Reuters, Kamis, 22 Maret 2018.

    Baca juga: Facebook Hadapi Tekanan Soal Data dan Privasi, Rp 688 T Melayang

    Zuckerberg juga berjanji akan memperketat pengamanan data pengguna akun Facebook dengan menambahkan teknologi pengamanan data bagi pelanggannya.

    Sementara itu, salah satu petinggi Facebook, Alex Stamos, dikabarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala keamanan. Stamos dikabarkan akan hengkang dari Facebook pada Agustus mendatang.

    Meski begitu, melalui akun Twitter pribadinya, Stamos menegaskan dirinya akan tetap bekerja untuk Facebook. Namun, ia tak menampik jika saat ini perannya sudah bergeser.

    "Meskipun ada desas-desus, saya tetap terlibat sepenuhnya untuk Facebook. Memang benar peran saya berubah," katanya melalui akun Twitter.

    Mengutip New York Times, Alex Stamos disebut sebagai salah satu pihak yang gencar mengungkap keterlibatan Facebook di tengah campur tangan Rusia saat pemilu Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump pada Pemilihan Presiden tahun 2016 lalu.

    Ketegangan bermula dari silang pendapat di antara petinggi Facebook soal keterbukaan data kepada publik soal negara-negara yang mungkin menyalahgunakan serta melakukan intervensi.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara