Pemerintah Segera Bahas Perubahan Asumsi Harga Minyak

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pemeriksaan rutin pada tangki timbun di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina di Pontianak, Kalimantan Barat, 14 Oktober 2017. TBBM Pontianak setiap harinya mendistribusikan 2.578 liter untuk berbagai jenis BBM guna mendukung program BBM satu harga Pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Petugas melakukan pemeriksaan rutin pada tangki timbun di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina di Pontianak, Kalimantan Barat, 14 Oktober 2017. TBBM Pontianak setiap harinya mendistribusikan 2.578 liter untuk berbagai jenis BBM guna mendukung program BBM satu harga Pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah menyatakan akan segera membahas perubahan asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (RAPBN-P) 2018. Sejak tahun lalu, pergerakan harga patokan minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) sudah melampaui perkiraan pemerintah.
     
    "Kami sudah mendapat undangan dari Direktorat Jenderal Anggaran untuk membahas perubahan asumsi harga minyak," ujar Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Harya Adityawarman kepada Tempo, Jumat 2 Maret 2018.
     
     
    Berdasarkan catatan Kementerian Energi, ICP rata-rata tahun lalu berkisar US$ 51 per barel. Angka tersebut melebihi asumsi versi APBN-P 2017 sebesar US$ 48 per barel. Kenaikan harga minyak akhirnya menambah penerimaan negara sektor migas hingga Rp 138 triliun atau 117 persen dari target tahun lalu sebesar Rp 118,4 triliun. Duit berasal dari penerimaan negara bukan pajak migas  Rp 82,5 triliun, PNBP lainnya Rp 6,05 triliun, serta pajak penghasilan (PPh) migas senilai Rp 49,4 triliun. 
     
    ICP bulan Januari juga sempat menguat di kisaran US$ 65 per barel, walaupun bulan lalu harganya turun ke US$ 61,6 per barel. Nilai tersebut jauh lebih tinggi ketimbang asumsi ICP dalam APBN 2018 sebesar US$ 48 per barel.
     
    Harya mengatakan asumsi ICP kemungkinan bakal berubah. Namun dia enggan menyebut berapa angka yang akan diusulkan Kementerian Energi. "Kami tunggu pembahasan selesai lebih dulu," tuturnya.
     
    Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menuturkan pemerintah masih mengkaji kemungkinan untuk mengubah asumsi makro dalam APBN 2018. "Nanti akan kami lihat secara komprehensif dan dalam realisasi yang lebih panjang lagi waktunya," ujarnya, kepada Tempo, kemarin.
     
    Askolani berujar pemerintah terus memantau perkembangan seluruh indikator perekonomian, seperti yang telah dilakukan secara berkala setiap tahunnya. Ihwal penambahan jumlah subsidi BBM jika harganya tak dinaikkan, Askolani mengatakan belum dapat dipastikan, sebab masih dipertimbangkan lebih lanjut. "Dari pemantauan itu bila diperlukan akan dilakukan langkah-langkah antisipasi, itu bisa dilakukan oleh pemerintah."
     
    Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menaksir ICP rata-rata tahun ini akan berkisar di angka US$ 60-65 per barel. Perhitungan Kurtubi lebih rendah dibanding asumsi harga minyak global yang dirilis Badan Energi Internasional (IEA) sebesar US$ 70 per barel.
     
    Penguatan harga bakal terjadi karena dia memperkirakan pengurangan produksi dari anggota Organisasi Negara Eksportir Migas (OPEC) terus berlanjut. Selain itu, permintaan minyak juga bakal naik karena menurut Dana Moneter Internasional (IMF) menaksir pertumbuhan ekonomi global akan membaik di angka 3,7 persen. "Memang akan fluktuasi. Tapi saya kira harganya tidak akan kurang dari US$ 60 per barel," tutur Kurtubi kepada Tempo, kemarin.
     
    ROBBY IRFANY | GHOIDA RAHMAH

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.