Harga Batu Bara Dongkrak Beban PLN Rp 14 Triliun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Dirut PT PLN Sofyan Basir (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) meninjau lokasi proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, 5 Oktober 2017. Secara simbolis Presiden meresmikan peletakan batu pertama pembangunan tiga proyek serta pengoperasian satu unit PLTU IPP berkapasitas 660 MW dengan total nilai investasi Rp35 triliun serta menyerap tenaga kerja lebih dari tiga ribu orang. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Dirut PT PLN Sofyan Basir (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) meninjau lokasi proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, 5 Oktober 2017. Secara simbolis Presiden meresmikan peletakan batu pertama pembangunan tiga proyek serta pengoperasian satu unit PLTU IPP berkapasitas 660 MW dengan total nilai investasi Rp35 triliun serta menyerap tenaga kerja lebih dari tiga ribu orang. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga batu bara global yang terus meningkat hingga mencapai rata-rata US$ 80 per ton membuat biaya produksi PT PLN (Persero) membengkak hingga Rp 14 triliun pada tahun lalu.

    Direktur Pengadaan Strategis PT PLN (Persero) Supangkat Iwan Santoso mengatakan naiknya biaya produksi tersebut lantaran harga batu bara melesat jauh dari asumsi dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun lalu sebesar US$ 63 per ton.

    “Kalau tahun kemarin, memang asumsi RKAP kan US$ 63. Ketika rata-rata US$ 80 sekian, itulah yang dampak ke Rp 14 triliun,” katanya di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Senin, 5 Februari 2018.

    Dia mengatakan kenaikan harga batu bara tersebut berdampak signifikan pada keuangan perseroan mengingat 60 persen produksi listrik PLN masih berasal dari batu bara. Hal ini yang membuat PLN kemudian menginginkan harga batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap diatur secara khusus.

    Saat ini, kata Iwan, rata-rata biaya pembangkitan dari energi batu bara mencapai Rp 650 per kWh. Biaya produksi tersebut masih lebih murah dibandingkan dengan rata-rata biaya produksi dari bahan bakar minyak, yang mencapai sekitar Rp 1.600 per kWh dan gas sekitar US$ 8.

    Kendati biaya produksi dari bahan bakar minyak (BBM) dan gas lebih mahal, PLN tidak mengusulkan pengaturan khusus untuk harga BBM dan gas lantaran porsi keduanya dalam bauran energi pembangkit listrik tidak berdampak signifikan.

    Menurut data Kementerian ESDM, porsi BBM mencapai 5,81 persen dan gas 24,82 persen. “Karena BBM bukan jadi backbone. Beda dengan batu bara, beban (BB) tidak naik cepat,” ujar Iwan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.