Hadiri Sarasehan 100 Ekonom, Jokowi Sampaikan Strategi Ekonomi

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo membuka Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi ke-12, sekaligus Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia Tahun 2017 serta Peluncuran Aplikasi e-LHKPN, di Jakarta, 11 Desember 2017. Presiden memerintahkan pembenahan sistem pemerintahan, pelayanan dan administrasi serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk ikut mencegah dan memberantas korupsi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Presiden Joko Widodo membuka Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi ke-12, sekaligus Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia Tahun 2017 serta Peluncuran Aplikasi e-LHKPN, di Jakarta, 11 Desember 2017. Presiden memerintahkan pembenahan sistem pemerintahan, pelayanan dan administrasi serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk ikut mencegah dan memberantas korupsi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta-Presiden Joko Widodo mengatakan transformasi ekonomi harus dilakukan dengan menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis investasi. Jokowi menyampaikan investasi perlu didorong kendati di tahun politik investor biasanya melakukan aksi wait and see.

    "Banyak yang bertanya-tanya kondisi ekonomi Indonesia di tahun politik seperti apa. Dan banyak yang bilang dunia usaha akan mengambil posisi wait and see. Pertanyaan saya sekarang, kalau mau wait and see, sampai kapan?" kata Jokowi saat memberikan pidato pembukaan dalam acara Sarasehan 100 Ekonom bertema "Ekonomi di Tahun Politik" di Hotel Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat pada Selasa, 12 Desember 2017.

    Jokowi mengatakan, persepsi ekonomi dan politik semestinya dipilah agar keduanya dapat berjalan baik di tahun politik 2018 dan 2019 nanti.

    Jokowi menyampaikan strategi lainnya yang masih akan dilakukan pemerintahannya di bidang ekonomi. Dia berujar transformasi juga dilakukan dengan mendorong industri yang berbasis proses.

    "Jangan sampai kita terus-teruskan lagi mengekspor sumber daya mentah kita tanpa pengolahan," ujarnya.

    Baca: Jokowi: Ekonomi Kita Tak Terpengaruh oleh Pilkada

    Adapun langkah ketiga yang disampaikan Jokowi yakni mengarahkan kebijakan ekonomi untuk pembangunan ekonomi yang lebih inklusif demi mengurangi kemiskinan, mengatasi ketimpangan, dan membuka sebanyak mungkin lapangan pekerjaan.

    Jokowi mengatakan, pembangunan infrastruktur masih akan digeber pada tahun mendatang. Dia beralasan, kondisi infrastruktur Indonesia masih jauh dari ideal bahkan memburuk. "Stok infrastruktur kita termasuk rendah, hanya 38 persen dari PDB," kata Jokowi.

    Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah akan mendorong penguatan daya beli dengan menjaga laju inflasi, nilai tukar yang stabil, dan ketersediaan pasokan. Adapun yang ketiga, kata Jokowi, yakni fokus pada industri manufaktur nonmigas yang menitikberatkan pada pendekatan rantai pasok.

    "Diprioritaskan pada sektor yang berbasis sumber daya alam dan menyerap lapangan kerja yang besar," kata Jokowi.

    Jokowi mengatakan, sektor pariwisata juga akan didorong mengoptimalkan kearifan lokal agar lebih inklusif. Mengutip laporan Badan Pusat Statisik, Jokowi mengatakan jumlah wisatawan mancanegara meningkat 25,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jokowi juga mrnyebut peningkatan investasi di sektor ini.

    "Sektor jasa yang mengandalkan sumber daya lokal, kearifan lokal, sehingga menciptakan ekonomi global yang lebih inklusif. Pak Thomas (Thomas Lembong, Kepala BKPM) sudah mengklaim investasi ke sektor pariwisata ini naik 35 persen," kata Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.