Garuda Indonesia Butuh Pinjaman USD 200 Juta untuk Modal

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., Pahala Mansyuri. swa.co.id

    Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., Pahala Mansyuri. swa.co.id

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Indonesia membutuhkan pinjaman untuk menambah belanja modal tahun depan sebesar US$ 200 juta. Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury mengatakan target tersebut bisa bersumber dari pasar modal atau perbankan.

    "Ada pinjaman, kalau dari rencana kami, bisa menyiapkan pendanaan tambahan melalui pasar modal dan pinjaman perbankan lain tahun depan lebih US$ 200 juta," kata Pahala saat meninjau Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat, 8 Desember 2017.

    Dia menyebutkan kebutuhan belanja modal 2018 sekitar Rp 2-3 triliun untuk perawatan pesawat yang menjadi fokus perusahaan tahun depan. "Tidak ada penambahan signifikan untuk belanja modal tahun depan. Kami lebih kepada perawatan pesawat sekitar Rp 2-3 triliun. Kalau ini, bersumber dari kas sendiri," tuturnya.

    Pasalnya, Garuda Indonesia hingga 2020 memutuskan menunda pembelian pesawat dan lebih memfokuskan pada meningkatkan ketergunaan pesawat. Pahala menargetkan ketergunaan pesawat dari yang saat ini 9 jam menjadi 11 jam.

    Selain itu, pihaknya akan lebih mengoptimalkan pengoperasian pesawat ATR dan Bombardier CRJ 1.000. "Rencana kami menaikkan produksi double digit, dalam hal ini jumlah kursi dan kilometer, khususnya untuk ATR dan CRJ, didorong meningkat 30 persen sebagai pengumpan," katanya.

    Pahala mengatakan hal itu juga dilakukan untuk mencapai target pendapatan sebesar US$ 3,2 miliar.

    Adapun komposisi kontribusi pendapatan Garuda Indonesia tahun ini didominasi penerbangan domestik 52 persen dan internasional 47 persen. "Kami perlu melihat perbandingan anggaran sampai November dibandingkan tahun lalu sedikit lebih baik, perlu disikapi dan tidak ada penurunan," ucap Pahala.

    Terkait dengan hasil dari penerbitan saham perdana (IPO), Pahala mengaku menambah ekuitas sampai US$ 800 juta. "Ini memberikan keamanan tambahan bagi para donor dari kami dan bank-bank yang memang membiayai kondisi ini," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.