Faisal Basri: Desember Krisis Ekonomi Kecil, Jangan Ugal-Ugalan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi yang membahas kebijakan  pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

    Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi yang membahas kebijakan pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri memperkirakan pada Desember 2017 akan terjadi krisis ekonomi kecil.  "Hati-hati sampai Desember, kemungkinan ada krisis kecil jadi hati-hati sekali. Krisis yang diciptakan oleh pemerintah sendiri," kata Faisal Basri di Ambhara Hotel Jakarta, Kamis, 9 November 2017.

    Menurut Faisal hal tersebut dipengaruhi karena Bank Indonesia menurunkan suku bunga terus menerus. "Padahal trennya lagi begini," kata Faisal.

    Baca Juga: Faisal Juga Pernah Meramalkan November Terjadi Krisis Ekonomi Kecil

    Faisal mengatakan hampir bisa dipastikan The Fed akan naikkan suku bunga pada Desember.

    Penurunan suku bunga yang terjadi di Indonesia, menurut Faisal menciptakan rupiah yang merosot dan cadangan devisa turun. Ia menilai karena cadangan devisa digelontorkan untuk menjaga. "Kalau tidak diintervensi BI, udah tidak Rp 14 ribu lagi," kata Faisal.

    Dengan begitu Faisal memperkirakan akan terjadi riak-riak yang cukup mengganggu di akhir tahun. "Sehingga 2018 paling tidak selama triwulan satu masih berbenah atas riak-riak akhir tahun," kata Faisal.

    "Rupiah sudah mulai terganggu, cadangan devisa sudah kelihatan turun, sekalipun ditopang oleh intervensi masih tetap melemah," ujar Faisal.

    Menurut Faisal Basri, memang selalu ada euforia, seperti indeks harga saham gabungan atau IHSG yang naik terus. Namun, Ia menilai kenaikan tersebut merupakan tanda-tanda akan segera turun.

    "Mau tidak mau, pemerintah akan menelan pil pahit karena penerimaan pajak akan jauh dari target. Semua menumpuk di akhir tahun, menyebabkan ada riak-riak itu," kata Faisal.

    Faisal mengatakan sudah menghitung-hitung kembali penerimaan pajak. "Kira-kira Rp 200 triliun kurangnya, tidak tanggung-tanggung," kata Faisal.

    Faisal menilai dengan adanya riak-riak tersebut Presiden Jokowi dan pemerintah harus sadar bahwa perlu ada rasionalisasi kebijakan. "Tidak bisa serba ugal-ugalan seperti sekarang ini," kata Faisal.

    "Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 5 persen, tahun depan paling tinggi 5,1 persen," kata Faisal, yang juga meramalkan terjadinya  krisis ekonomi kecil pada November 2017.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.