Minggu, 16 Desember 2018

SwissInnovation Challenge Asia Jaring 25 Finalis Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi - Kupindroid (Kunci Pintar Aplikasi Android). SUMBER FOTO : SHUTTERSTOCK (KOMUNIKA ONLINE)

    Ilustrasi - Kupindroid (Kunci Pintar Aplikasi Android). SUMBER FOTO : SHUTTERSTOCK (KOMUNIKA ONLINE)

    TEMPO.CO, Bandung - Ajang SwissInnovation Challenge Asia menjaring 25 tim finalis Indonesia. Pemenang kompetisi proyek inovasi produk, bisnis, organisasi, atau manajemen itu akan diumumkan Jumat malam, 22 September 2017 di Bandung. Kampiun dari Indonesia akan diundang ke Swiss untuk bertarung dengan juara dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand, sebelum melawan tim juara dari tuan rumah Swiss.

    Ketua Panitia SwissInnovation Challenge Asia - Indonesia 2017, Leo Aldianto mengatakan, 25 finalis merupakan hasil penyaringan dari total 119 peserta yang mengajukan proposal inovasi. Para finalis itu antara lain, tim Alive!, ButuhDekat, ConViews, Cozora.com, Crick Bar, Egowis Ice Cream, Encomotion, Eragano, Goods Do Goods, IDEedu.com Online Course, Kwila, Latis Edukasi, dan Legovolution.

    Tim ButuhDekat misalnya, menawarkan aplikasi online untuk transaksi kebutuhan barang keseharian. Inovasi mereka membantu calon pembeli untuk menemukan toko terdekat. Sementara Cozora.com membuat layanan kelas online atau jarak jauh dengan pengajar ahli. Misinya membuka akses belajar bagi siapa pun.

    Tim Egowis Ice Cream mengusung es krim unik untuk kesehatan tubuh. Mereka meracik bahan dari air eceng gondok, kedelai, wijen, secang, dan lainnya yang terbukti menyehatkan dari hasil uji laboratorium. Sedangkan tim Encomotion membuat sistem pertanian cerdas dengan sistem irigasi otomatis dan pemantauannya bisa dilakukan jarak jauh dengan aplikasi bergerak. Sistemnya bisa digunakan untuk memantau dan mengendalikan kondisi lingkungan budidaya di dalam rumah kaca.

    Menurut Leo, inovasi yang lolos mulai dari ide atau konsep hingga terapan atau sudah dilakukan. Kelebihan para tim peserta yang lolos yaitu umumnya telah berupaya menawarkan solusi masalah ke masyarakat luas. Kekurangannya secara umum berdasarkan hasil rapat dewan juri, belum ada inovasi yang besar secara teknologi. “Bisnis model dan impak ke sosial cukup banyak, tapi masih termasuk low technology,” kata Leo sebelum pengumuman pemenang, Jumat, 22 September 2017.

    Dewan juri terdiri dari sembilan orang yang berlatar akademisi dan praktisi di bidang teknologi serta inovasi, yaitu Akhmad Lukita, Anton Adibroto, Hora Tjitra, Jann Hidayat, Ken Ratri Iswari, Melia Famiola, Nadya Saib, dan juri asal Swiss yakni Rolf-Dieter Reineke, dan Ueli Zehnder.

    Kampiun lomba akan memperoleh hadiah uang US$ 15 ribu atau setara Rp 199 ratus juta, juara kedua US$ 5 ribu (Rp 66 juta) , dan pemenang ketiga US$ 3 ribu (Rp 39 juta).



    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".