Harga Eceran Tertinggi Gula Tidak Akan Dinaikkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan  Enggartiasto Lukita menjawab pertanyaan wartawan di Auditorium Kementerian  Perdagangan, 3 April 2017. TEMPO

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjawab pertanyaan wartawan di Auditorium Kementerian Perdagangan, 3 April 2017. TEMPO

    TEMPO.COJakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan tidak bakal menaikkan harga eceran tertinggi (HET) gula. Pasalnya, dia menilai, HET yang ditetapkan sekarang, yaitu Rp 12.500 per kilogram, sudah memberikan margin yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan biaya pokok produksinya. “Saya bilang tidak mungkin saya naikkan (HET gula), karena marginnya sudah terlalu besar,” katanya di Plaza Indonesia, Rabu, 30 Agustus 2017.

    Enggar berujar saat ini biaya produksi di pabrik gula tebu swasta yang memiliki perkebunan tebu sendiri hanya sebesar Rp 6.000 per kilogram. Sedangkan untuk pabrik gula yang mesti membeli tebu diperhitungkan maksimal Rp 8.000 per kilogram. “Untuk raw sugar yang diolah menjadi gula kristal putih berkisar Rp 8.000 sampai Rp 8.500 per kilogram,” dia menjelaskan.

    Baca: APTRI Mengeluh Gula Tani Tak Laku karena PPN

    Petani tebu melakukan demonstrasi menuntut pemerintah menaikkan HET gula menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Sebab, mereka menilai saat ini tidak dapat memperoleh keuntungan lantaran biaya produksi yang perlu dikeluarkan sekitar Rp 10 ribu per kilogram.

    Solusi yang perlu dilakukan, kata Enggar, bukanlah menaikkan HET gula, tapi dengan melakukan revitalisasi dari fasilitas pabrik gula milik Badan Usaha Milik Negara. Dengan melakukan revitalisasi, diharapkan pekerjaan mesin tersebut menjadi lebih efisien dan dapat menekan ongkos produksi yang terlampau tinggi saat ini.

    Simak: Harga Eceran Tertinggi Gula Minta Diubah, Mendag: Buat apa?

    “Sebab, kalau harga eceran tertinggi gula dinaikkan, rakyatlah yang harus menanggung beban akibat ketidakefisienan sekelompok perusahaan. Apakah adil 258 juta rakyat Indonesia harus menanggung ketidakefisienan pabrik gula? Enggak adil, kan?” ucapnya.

    Mengenai impor gula, kata Enggar, adalah demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Dia menyebut produksi gula yang ada saat ini, baik BUMN maupun swasta, baru mencapai 2,2 juta ton, sedangkan kebutuhannya 3,3 juta ton. “Jelas ya selisihnya. Jadi memenuhi kebutuhan itu dari impor. Kalau tidak, mau dari mana lagi?” tuturnya.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.