Begini Cara Perusahaan Jamu Bertahan di Tengah Persaingan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjaga stan menata jamu tradisional pada pameran industri kosmetik dan jamu di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 1 September 2015. Kinerja industri obat tradisional dan jamu sepanjang semester pertama stagnan dibandingkan semester lalu yang nilainya berkisar Rp 3 triliun. Salah satu faktor penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Penjaga stan menata jamu tradisional pada pameran industri kosmetik dan jamu di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 1 September 2015. Kinerja industri obat tradisional dan jamu sepanjang semester pertama stagnan dibandingkan semester lalu yang nilainya berkisar Rp 3 triliun. Salah satu faktor penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Dwi Ranny Pertiwi mengatakan saat ini minat konsumen terhadap konsumsi jamu masih tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya industri farmasi yang turut memproduksi jamu.
     
    “Kalau jamu itu, prospeknya selalu ada pasarnya. Kalau tidak ada, kenapa industri farmasi harus produksi jamu? Artinya, peminat jamu memang banyak dan akan selalu ada. Yang penting, walaupun kondisi perekonomian lesu, orang tetap harus sehat. Pilihannya untuk meminimalkan dia sakit. Artinya, dia harus menjaga kesehatannya. Salah satunya dengan meminum jamu,” kata Dwi saat dihubungi Tempo, Selasa, 8 Agustus 2017.

    Baca: Nyonya Meneer Bangkrut, Begini Dampaknya terhadap Industri Jamu
     
    Menurut Dwi, berbagai inovasi dilakukan pengusaha jamu untuk tetap mempertahankan produksinya hingga sekarang. Salah satunya beralih ke produksi modern. Tadinya, jamu diproduksi dalam bentuk serbuk. Seiring dengan berkembangnya teknologi, perusahaan jamu mengolah bahan yang ada dengan mengekstraknya, meski hal ini menambah biaya produksi mereka.

    “Sekarang semuanya harus ekstrak, dan untuk proses ekstrak itu kan lumayan cost-nya bertambah ya. Karena dari yang tadinya bahan baku 10 kilogram, kalau untuk serbuk, katakanlah menjadi 5 kilogram. Kalau ekstrak kan jadi cuma 1 kilogram. Tapi ya itu berjalan, menjadi cara untuk memudahkan konsumennya,” tutur Dwi.

    Simak: Kemenperin: Industri Jamu Nasional 2017 Tumbuh 10 Persen

    Selain itu, kini pemasaran jamu mulai merambah bisnis online. Menurut Dwi, saat ini konsumen, baik peminum ataupun penjual jamu, di pelosok daerah mulai berlatih menggunakan perangkat seluler canggih untuk proses order. Hal ini juga berlaku bagi perusahaan jamu di sana yang akan mendaftarkan produk barunya, yang harus didaftarkan secara online. “Makanya anaknya-lah yang bantu. Sekarang aja untuk produk baru harus didaftarkan secara online. Harus dipaksa bisa,” ucap Dwi.

    Menurut Dwi, bisnis pemasaran jamu secara online dapat menjadi peluang untuk dikembangkan di masa depan, mengingat perkembangannya yang cukup bagus. Meski demikian, penjualannya masih kalah bila dibandingkan dengan yang konvensional. Selain itu, pemasaran melalui online cukup memudahkan konsumen penjual jamu di perdesaan, karena sebelumnya mereka harus pergi kota untuk membeli produk jamu secara grosir.

    “Jadi saya pantau beberapa toko, apotek, dan di pelosok, mereka bisa beli online. Dari mana saja, e-commerce, atau distributor yang menjual secara online. Tapi, untuk saat ini, tetap masih banyak yang menjual secara konvensional, ya,” katanya.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.