Industri Bioskop Nonjaringan Sasar Pasar Sulawesi dan Kalimantan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perwakilan Goethe Institut, Sofia Setyorini menjelaskan tentang kegiatan Festival Film German Cinema 2016 kepada penonton sebelum pemutaran film berjudul Agonie di salah satu bioskop kawasan Kuta, Bali, 20 Oktober 2016. ANTARA FOTO

    Perwakilan Goethe Institut, Sofia Setyorini menjelaskan tentang kegiatan Festival Film German Cinema 2016 kepada penonton sebelum pemutaran film berjudul Agonie di salah satu bioskop kawasan Kuta, Bali, 20 Oktober 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku usaha bioskop nonjaringan meyakini pertumbuhan industri ini masih sangat prospektif, terutama di level kabupaten/kota, di tengah serbuan monopoli bioskop jaringan.

    Beberapa daerah justru mencatatkan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas nasional sehingga peluang ini tentu saja harus dimanfaatkan oleh kalangan pengusaha di daerah. Tak hanya itu, masih banyaknya daerah yang belum memiliki bioskop juga dinilai menjadi faktor pemacu kebangkita industri bioskop lokal.

    “Di Pulau Jawa, khususnya di level kabupaten/kota, belum banyak bioskop yang didirikan. Belum lagi wilayah Sulawesi dan Kalimantan, keberadaan bioskop masih memusat di level ibu kota provinsi saja,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Sjafrudin kepada Bisnis, Selasa, 13 Juni 2017.

    Djonny, yang juga pemilik beberapa bioskop independen menyebutkan pihaknya telah memiliki beberapa bioskop yang tersebar mulai dari Pangkal Pinang, Cilacap, Semarang, Banjarnegara, dan Bandung.

    Dia mengakui sudah memiliki rencana untuk membuka bioskop baru di tujuh kota. Sayangnya dia belum bersedia membeberkan rencananya secara detil. Hingga saat ini, jumlah layar bioskop di Indonesia hanya 1.200 dan sebarannya masih terpusat di Pulau Jawa.

    Kendati demikian, Djonni mengungkapkan industri ini tergolong padat modal sehingga bantuan dari pemerintah, misalnya berupa pinjaman lunak, dinilainya bakal memacu pertumbuhan jumlah layar di Indonesia

    Biaya untuk menambah satu layar bioskop bisa mencapai Rp2,5 miliar, di mana Rp1 miliar digunakan untuk membeli proyektor berkualitas baik. Umumnya, bioskop membutuhkan minimal tiga layar, meski jumlah idealnya layar harus mencapai 4 unit.

    Menurutnya, dengan bunga yang masih berada di level tinggi, pelaku usaha dan pengelola tidak bisa leluasa membangun bioskop meskipun tingkat permintaan dari domestik sangat besar.

    Adapun, beberapa pemain di bioskop independen juga masih eksis hingga saat ini antara lain Rajawali Cinema, Borobudur Cineplex Pekalongan, E-Cinema Semarang, Sarinah Cineplex Malang, Golden Theater Kediri, Golden Theater Tulung Agung, STUDIO 88 Pekanbaru, dan Hollywood Cinema Kendari.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.