Homestay Desa Wisata, Portofolio Baru Kembangkan Pariwisata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan berfoto saat Hari Raya Galungan di Desa Penglipuran, Bangli, Bali, 5 April 2017. Desa wisata yang masuk dalam daftar desa tradisional terbersih di dunia itu nampak meriah dengan adanya penjor-penjor di setiap rumah saat Hari Raya Galungan sehingga menjadi daya traik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Foto: Johannes P. Christo

    Sejumlah wisatawan berfoto saat Hari Raya Galungan di Desa Penglipuran, Bangli, Bali, 5 April 2017. Desa wisata yang masuk dalam daftar desa tradisional terbersih di dunia itu nampak meriah dengan adanya penjor-penjor di setiap rumah saat Hari Raya Galungan sehingga menjadi daya traik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Foto: Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Homestay Desa Wisata bakal menjadi industri baru dalam pengembangan amenitas pariwisata. Indonesia pun akan menjadi negara dengan homestay terbesar, berbanyak, dan terbaik dunia.

    Itulah mimpi besar Menteri Pariwisata Arief Yahya dari Rapat Koordinasi Pariwisata II/2017 yang bakal digelar di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara Jakarta Selatan, pada 18-19 Mei 2017.

    BacaKenapa Pariwisata Disuruh Nyari Musuh, Ini Jawaban Menteri Arief

    Target jumlah homestay baru pada 2019, menurut dia, adalah 100.000. Tersebar di seluruh Indonesia, minimal di 10 Bali Baru, atau 10 Destinasi Prioritas yang sudah diputuskan oleh Presiden Joko Widodo. Sebarannya antara lain di Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara.

    Lihat jugaKawasan Wisata Dijamin Bebas Sampah, Ini Penanganannya

    Tahun ini ditargetkan 20.000, tahun 2018 ditambah 30.000, dan 2019 dibangun 50.000 yang bakal mencapai 100.000 pada 2019. :Homestay itu dikelola secara korporasi, bukan cara koperasi. Homestay ini dijalankan dengan mesin baru, model bisnis baru, berbasis pada digital yanh saya sebut digital sharing economy," kata Arief Yahya di Jakarta, Kamis, 18 Mei 2017.

    Program homestay desa wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini. Program tersebut merupakan kontribusi Kemenpar terhadap Program Sejuta Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pembangunan homestay mempunyai nilai strategis. Terutama untuk memperkuat unsur Amenitas dalam teori 3A, yakni atraksi, amenitas, dan aksesibilitas.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.