Eropa Kampanye Negatif Soal Sawit, Ekspor Justru Naik 20 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meninjau Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang, 7 Agustus 2016. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meninjau Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang, 7 Agustus 2016. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta -  Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan ekspor minyak sawit Indonesia mengalami peningkatan. Ini terjadi di tengah moratorium sawit yang dilakukan Uni Eropa pada sawit Indonesia.

    "Ekspor crude palm oil kita ke Eropa dan Amerika meningkat per bulan ini, sekitar 15-20 persen," kata Enggar di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin, 15 Mei 2017. Dia mengatakan itu seusai mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima Menteri Pembangunan Ekonomi Italia, Carlo Calenda.

    Baca: Peneliti Buat Data Base Kelapa Sawit

    Peningkatan ekspor yang terjadi di tengah kampanye negatif Uni Eropa ini, kata Enggar, menunjukan Eropa dan Amerika membutuhkan minyak sawit. Namun, kampanye negatif itu tetap harus disikapi Indonesia karena tetap akan membawa dampak.

    Kampanye negatif terhadap sawit terus-menerus dilakukan sejumlah Eropa. Enggar mencontohkan Eropa pernah menyerang sawit dengan isu kesehatan dimana mereka mengatakan sawit mengandung kolesterol tinggi. Merespon tudingan itu, Indonesia membuktikan hal sebaliknya dengan biaya mahal.

    Kini, sawit diserang lagi dengan isu lingkungan dan deforestrasi. Meskipun hingga kini kampanye negatif itu tidak berpengaruh pada ekspor, Indonesia tetap harus mengambil sikap. "Sebenarnya isu lingkungan tidak ngaruh ke ekspor, tapi kalau dibiarkan saja akan mengganggu. Ini kan kampanye negatif kalau terus berulang-ulang dampaknya tidak baik," kata Enggar.

    Baca: Korporasi Belanda Jajaki Investasi Sawit Berkelanjutan

    Masalah moratorium sawit ini menjadi bagian dalam pembicaraan Kalla dengan Carlo. Dalam kesempatan itu, Carlo menyatakan Italia akan membantu persoalan tersebut. Ini juga dilakukan untuk mempercepat negosiasi Indonesia-EU CEPA (Europe Union-Comprehensive Economic Partnership).

    Enggar menyatakan pemerintah menargetkan perundingan Indonesia-UE CEPA akan kelar pada akhir tahun ini. Namun dia mengakui, persoalan sawit ini bisa mempengaruhi negosiasi tersebut.

    "Wapres menanyakan dan mengingatkan saya usahakan target negosiasi yang telah disepakati, yaitu dalam tahun ini," kata Enggar.

    AMIRULLAH SUHADA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.