Dampak Pembatasan Kuota Transportasi Online, Ini Kata Pakar UI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Taksi Online. Dok.TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi Taksi Online. Dok.TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Musni Umar menilai pembatasan kuota transportasi berbasis aplikasi online atau daring bakal meningkatkan jumlah pengangguran. Sebab, kata Musni, taksi online dan sejenisnya sangat banyak peminat dan terus bertanbah jumlahnya.

    Pembatasan kuota transportasi online adalah salah satu butir revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 tahun 2016 tentang Penyelengaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek yang dilakukan pemerintah.

    Baca : Aturan Taksi Online,3 Poin Ini yang Jadi Keberatan Grab

    "Selama ini, keberadaan bisnis angkutan berbasis aplikasi online turut menciptakan lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat," kata Musni di Jakarta, Senin, 27 Maret 2017.

    Menurut Musni, bisnis transportasi berbasis aplikasi menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat sehingga pemberian kuota dianggap dapat mengurangi lapangan pekerjaan yang selama ini sudah dinikmati masyarakat.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sambung dia, pada Agustus 2016 jumlah penduduk yang bekerja naik 3,59 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2015. Sedangkan jumlah pengangguran berkurang 530 ribu orang.

    Baca : Tarif Taksi Online Akan Menyamai Taksi Konvensional

    Dia mengatakan, jumlah tenaga kerja naik, terutama pada sektor jasa kemasyarakatan, sebesar 1,52 juta orang atau 8,47 persen, perdagangan 1,01 juta orang atau 3,93 persen, dan transportasi, pergudangan serta komunikasi 500 ribu orang atau 9,78 persen.

    "Dari data itu, sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang tenaga kerja dengan pertumbuhan tertinggi. Apalagi, sebagian besar pengemudi transportasi online merupakan masyarakat yang berada dalam status usia produktif," ujar Musni.

    Musni menilai, transportasi online sangat dibutuhkan masyarakat karena memudahkan akses transportasi masyarakat dan menjadi mata pencaharian utama pengemudi.

    Baca: Tarif Taksi Online Diatur, Begini Tanggapan Uber dan Go-Jek

    Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan menyarankan, pemerintah mendorong kolaborasi antara transportasi online dengan konvensional. "Yang terpenting saat ini adalah pengaturan standar pelayanan minimum yang memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengguna jasa transportasi," kata Tigor seraya menyatakan standar itu harus diatur secara nasional dan tidak diserahkan kepada pemerintah daerah.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jumlah dan Asal mikrobioma di Tubuh Manusia

    Tubuh manusia merupakan rumah bagi 100 triliun mikroba. Ada yang baik, ada yang buruk. Dari mana datangnya? Berapa total beratnya?