Tol Batang-Semarang Dikebut agar Bisa Dilalui saat Lebaran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam kegiatan gerakan Tolak Hoax di Semarang, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Facebook.com/Ganjar-Pranowo

    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam kegiatan gerakan Tolak Hoax di Semarang, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Facebook.com/Ganjar-Pranowo

    TEMPO.CO, Semarang - Pemerintah menargetkan jalan tol Batang-Semarang bisa dilalui angkutan Lebaran tahun ini. Menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, target itu dicanangkan menyusul permintaan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

    “Target Tol Semarang-Batang sudah diminta Menhub secara fungsional beres pada lebaran ini,” Kata Ganjar hari ini, Rabu, 8 Maret 2017.

    BacaTiket Kereta Api Lebaran Tersedia Mulai 17 Maret

    Ganjar menjelaskan, target itu membuat dia serius menuntaskan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol sepanjang 75 kilometer tersebut. “Sudah dipikirkan pembebasan terkait dengan tanah masyarakat, tanah provinsi, wakaf, dan BUMN,” ucapnya.

    Ganjar optimistis jalan tol Batang- Semarang bisa dilalui angkutan lebaran meski mungkin belum berfungsi 100 persen. Ia pun berjanji mengecek proyek jalan tol dengan bersepeda di akses jalan Trans Jawa itu. “Menjelang Lebaran, saya akan naik sepeda (untuk) cek apakah bisa dipakai untuk mudik,” ucap Ganjar.

    LihatBus Angkutan Lebaran Didorong Gunakan Kapal Feri

    Humas PT Jasamarga Semarang Batang (JSB) Iwan Abrianto menuturkan Tol Batang-Semarang kemungkinan bisa dilalui angkutan Lebaran hingga kawasan Ngaliyan, Kota Semarang. “Masuk dari Batang, lalu keluar ke Kerincing menuju jalan Pantura. Setelah itu masuk kembali ke SS Weleri sampai ke Ngaliyan Semarang,” kata dia.

    Menurut Iwan, pembangunan yang terbagi dalam lima seksi tersebut meliputi Batang Timur, Weleri, Kendal, Kaliwungu, dan Krapyak dengan total panjang jalan tol 75 kilometer.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).