Kementerian PUPR Prioritaskan Air Baku di Pulau Terluar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 16 Maret 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 16 Maret 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan pembangunan infrastruktur dasar seperti sarana dan prasarana air baku untuk meningkatkan luasan cakupan pelayanan air minum yang aman dan terlindungi.

    Menteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengatakan hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan mendorong terwujudnya pembangunan yang lebih merata pada kawasan perbatasan, kawasan pulau terluar, kawasan tertinggal, dan kawasan pedesaan.

    "Disamping pembangunan infrastruktur berskala masif, kami juga memfokuskan pada pembangunan infrastruktur dasar, misalnya penyediaan air minum, sanitasi, pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) dan penataan kawasan kumuh,” tutur Basuki dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 25 Februari 2017.

    Baca : Jatam Desak Pemerintah Hentikan Operasi Freeport Indonesia

    Pembangunan infrastruktur pulau terluar yang saat ini tercatat sebanyak 117 pulau, sesuai dengan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, salah satunya membangun dari pinggiran. Pelaksanaannya dilakukan melalui pendekatan wilayah pengembangan strategis (WPS), di mana pulau terluar merupakan bagian dari WPS.

    Pembangunan infrastruktur pulau terluar yang dilakukan Kementerian PUPR berkoordinasi dengan instansi lain, seperti  Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kawasan yang pada 2016 mendapatkan sentuhan pembangunan sarana air baku adalah Kepulauan Obi di Maluku Utara. Kepulauan Obi terkenal dengan nikel dan batu akik, namun warganya tidak punya cukup air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

    Pada Januari 2016, Unit Air Baku Obi mulai dibangun dengan kapasitas tampung 30 meter kubik. Proyek ini bertujuan menambah debit air yang telah dibangun oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Halmahera Selatan. Pekerjaan konstruksi yang dikerjakan meliputi pembangunan intake, bak saring, reservoir, tandon air dan jembatan pipa. Reservoir yang dibangun berkapasitas 350 meter kubik dan bak saring berkapasitas 36 meter kubik.

    Baca : Pengusaha Australia: Indonesia Merupakan Top 5 Rekan Bisnis

    Pembangunan unit air baku selesai pada Juli 2016 dengan sumber air diambil dari Sungai Todoku dengan debit air 10 liter per detik. Sekarang warga Kepulauan Obi sudah dapat menikmati tambahan pasokan air dari unit tersebut.

    Dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, Kementerian PUPR melaksanakan program 100-0-100, yakni program untuk mewujudkan 100 persen ketersediaan akses air minum, 0 persen kawasan kumuh, dan 100 persen ketersediaan akses sanitasi sehat pada 2019. Sampai akhir 2015, cakupan pelayanan air minum aman mencapai 71,05 persen.

    “Untuk mencapai target 100 persen akses air minum pada 2019, pemerintah masih harus menambah cakupan air baku sekitar 7,2 persen per tahun, baik melalui jaringan perpipaan maupun bukan jaringan perpipaan termasuk ketersediaan air bakunya,” kata dia.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.