Gara-gara Tengkulak, Serapan Beras Bulog Madiun 87 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi beras Bulog/Badan Urusan Logistik. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi beras Bulog/Badan Urusan Logistik. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COMadiun - Target serapan beras di Perusahaan Umum Bulog Subdivisi Regional Madiun, Jawa Timur, baru mencapai 87 persen hingga Desember ini. Wakil Kepala Bulog setempat, Edy Sarjono, mengatakan jumlah beras yang telah diserap dari petani sekitar 46 ribu ton dari pagu tahun ini sekitar 60 ribu ton.

    "Kendalanya karena petani dan pengusaha penggilingan padi ada yang menjual (berasnya) ke pihak swasta,” kata Edy, Selasa, 27 Desember 2016.

    Pihak swasta yang dimaksud adalah tengkulak. Mereka, menurut Edy, membeli beras dari petani dan pengusaha penggilingan padi dengan harga lebih tinggi, yakni antara Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram. Sementara pihak Bulog hanya membelinya dengan harga 7.300 per kilogram atau sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah.

    Selain membeli beras, kata Edy, pihak tengkulak langsung membeli gabah dari petani di Kabupaten Ngawi, Kabupaten Madiun, dan Kota Madiun, yang merupakan wilayah Bulog setempat. Sebagian di antara tengkulak mengambil gabah setelah dipanen di sawah. Kemudian, diangkut truk dan dijual di luar Madiun dan Ngawi. “Harganya pun lebih tinggi,” ujarnya.

    Kendati demikian, pihak Bulog tetap berupaya memenuhi target serapan beras dari petani. Adapun cara yang dilakukan dengan meningkatkan kerja sama dengan 12 mitra pengadaan beras yang hingga kini masih aktif. "Serapan (berasnya) kami gunakan untuk memenuhi raskin (beras bagi warga miskin), cadangan beras pemerintah untuk bencana alam, dan operasi pasar," tutur Edy.

    Edy mengatakan, untuk raskin tahun ini, dialokasikan 12 distribusi bagi rumah tangga sasaran di Ngawi, Kabupaten Madiun, dan Kota Madiun. Adapun untuk cadangan beras pemerintah, masing-masing daerah mendapatkan jatah 100 ton dalam setahun. "Tahun ini terserap 60 ton untuk membantu warga di Ngawi yang terdampak banjir beberapa waktu lalu," ujarnya. Sedangkan stok beras untuk operasi pasar dikeluarkan ketika terjadi lonjakan harga yang cukup signifikan.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN), Kementerian Perdagangan, Arlinda memastikan pasokan beras di gudang Bulog Subdivisi Regional Madiun cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga pertengahan 2017. “Stoknya aman,” katanya saat melakukan kunjungan kerja di Kota Madiun, Jawa Timur, Selasa, 27 Desember 2016.

    Pasokan beras di gudang Bulog setempat sebanyak 19.741 ton. Jumlah tersebut diyakini mampu mencukupi kebutuhan warga di wilayah Kabupaten Ngawi, Kabupaten Madiun, dan Kota Madiun hingga Agustus 2017. “Yang penting pada hari-hari besar (Natal dan Tahun Baru) stok aman dan harga cukup stabil di pasaran,” katanya.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.