Harga Kembali Melemah, Ekspor CPO tanpa Bea Keluar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyortir kelapa sawit yang akan dikirim ke pabrik CPO di kawasan PTPN VIII di Cigudeg, Bogor.  dok Tempo/Arie Basuki

    Pekerja menyortir kelapa sawit yang akan dikirim ke pabrik CPO di kawasan PTPN VIII di Cigudeg, Bogor. dok Tempo/Arie Basuki

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi produk crude palm oil (CPO) untuk penetapan bea keluar (BK) periode November 2016 sebesar US$ 743,23 per metrik ton. Harga tersebut turun US$ 38,28 atau 5 persen dari periode Oktober 2016, yaitu US$ 781,49 per metrik ton.

    “Saat ini, harga referensi CPO melemah dan berada di bawah ambang US$ 750 per metrik ton sehingga ekspor untuk periode November 2016 tidak dikenai bea keluar," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward di Jakarta, Selasa, 1 November 2016.

    Penetapan itu tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 74/M-DAG/PER/10/2016 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

    Sepanjang tahun ini, ekspor CPO baru dua kali dikenai bea keluar, yakni pada Mei dan Oktober. Sebelumnya, terakhir kali CPO dikenai pajak ekspor karena harganya di atas ambang pengenaan bea keluar adalah pada Oktober 2014.

    Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) masih optimistis harga CPO bakal terangkat naik. "Sejak Agustus lalu, harga di pasar dunia sebenarnya telah menunjukkan tren peningkatan," kata Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan.

    Pada pekan pertama Agustus, harga CPO berada di bawah US$ 700 per metrik ton. Namun, pada awal September lalu, harganya tercatat sebesar US$ 890. Penyebab kenaikan harga, menurut Fadhil, adalah stok CPO Indonesia dan Malaysia menipis hingga di bawah 2 juta ton.

    Sementara itu, harga referensi biji kakao pada November 2016 kembali turun sebesar US$ 137 atau 4,71 persen, yaitu dari US$ 2.909,6 per metrik ton menjadi US$ 2.772,6 per metrik ton. Hal ini berdampak terhadap penetapan harga patokan ekspor biji kakao yang juga turun US$ 134 atau 5,1 persen dari US$ 2.612 per metrik ton pada periode Oktober 2016 menjadi US$ 2.478 per metrik ton pada November 2016.

    Penurunan harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao disebabkan oleh menurunnya harga internasional komoditas tersebut. Bedanya, bea keluar biji kakao tidak berubah dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya, yaitu sebesar 10 persen.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.