2017, APRDI Targetkan 5 Juta Investor Reksa Dana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Denny R. Thaher saat memberikan keterangan pers di Gedung Equity, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Oktober 2016. Tempo/Destrianita

    Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Denny R. Thaher saat memberikan keterangan pers di Gedung Equity, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Oktober 2016. Tempo/Destrianita

    TEMPO.CO, Jakarta -  Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menargetkan jumlah pemilik rekening reksa dana  mencapai 5 juta nasabah hingga akhir 2017. Padahal, jumlah tersebut masih terlampau jauh jika dibandingkan jumlah pemegang rekening reksa dana saat ini.

    Ketua APRDI Denny R. Thaher mengatakan, hingga September 2016 jumlah rekening reksa dana dari seluruh manajer investasi di Indonesia baru hampir sekitar 400 ribu investor.

    "Ini memang masih jauh ketinggalan, tahun depan target kami akhir 2017 bisa 5 juta. Nah program InvestoReady ini kami lakukan untuk mencapai target itu," ucap Denny R. Thaher saat memberikan paparan publik di Gedung Equity, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Oktober 2016.

    Denny menuturkan, program InvestoReady merupakan program edukasi APRDI berupa sekolah investor reksa dana. Melalui program ini, APRDI memberikan edukasi kepada investor dan calon investor reksa dana mengenai perencanaan keuangan dan tata cara berinvestasi reksa dana yang benar. Untuk menarik minat calon investor, APRDI akan memberikan reksa dana senilai Rp 100 ribu bagi yang mengikuti program tersebut.

    Denny mengakui, target yang mereka kejar sangat jauh apabila dibandingkan dengan pencapaian saat ini. Namun mereka telah mencanangkan program persiapan lain sekitar 3,5 tahun lalu dalam upaya pencapaian target, seperti misalnya penyebaran distribusi penjualan reksa dana.

    APRDI juga didukung oleh Peraturan OJK Nomor 19/POJK.03/2014 tentang program inklusi keuangan, sehingga agen inklusi keuangan juga bisa ikut menyalurkan reksa dana non bank, serta membantu menyederhanakan proses know your customer (kys) dalam rangka mengetahui karakteristik nasabah.

    "Kemudian kami juga ingin reksa dana bisa dilakukan secara elektronik dan juga sudah disupport oleh OJK yang memperbolehkan transaksi elektronik atau laporan secara elektronik. Setelah transaksi lebih mudah baru kami luncurkan program IURAN," ujar Denny.

    Program IURAN merupakan program baru yang diluncurkan oleh APRDI dalam rangka mengejar target jumlah investor reksa dana. Investasi IURAN mencakup dua jenis reksa dana yakni konvensional dan syariah, dengan jangka waktu investasi yang ditawarkan berbeda-beda yakni 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun.  Calon nasabah reksa dana dapat mulai berinvestasi dengan jumlah minimal Rp 100 ribu yang bisa didebet secara berkala dari rekening tabungan mereka.

    Adapun program IURAN yang bisa dipilih terdiri dari dua jenis yakni IURAN pendidikan anak, yang merupakan program investasi berkala yang difokuskan untuk penyediaan dana dengan tujuan persiapan pendidikan anak di masa mendatang, dan IURAN pensiun, yang difokuskan untuk penyediaan dana untuk tujuan persiapan pensiun.

    APRDI berharap program ini nantinya dapat menanamkan disiplin berinvestasi pada investor reksa dana sejak dini sehingga tujuan keuangannya bisa tercapai di tengah volatilitas pasar. "Kami ingin investor reksa dana tidak melakukan transaksi jual beli dalam jangka pendek dalam berinvestasi di reksa dana," ujar Denny.

    Denny menambahkan, hingga saat ini total nilai aktiva bersih atau dana kelolaan industri reksa dana telah mencapai Rp 320 triliun. Hingga akhir tahun, APRDI menargetkan dana kelolaan meningkat hingga mencapai sekitar Rp 340 triliun. Ya mungkin kami harapkan bisa naik sekitar sampai 5 persen atau 6 persen lagi sampai akhir tahun," ujar Denny.

    Dari jenis produk reksa dana, Denny menuturkan minat investor masih tertuju pada reksa dana saham, jika dibandingkan dengan produk reksa dana lainnya seperti reksa dana pasar uang, reksa dana campuran, dan lain-lain. "Sekarang sih mungkin porsi masih saham ya, sekitar 40-45 persen," ujar Denny.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.