Kebutuhan Pinjaman Mikro Tinggi, Joki pun Bermunculan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa sekolah dasar (SD) Budi Mulia Dua mengikuti mengikuti pengarahan saat membuka tabungan baru dari petugas Bank Negara Indonesia (BNI) 46 di Yogyakarta, Rabu (25/4). TEMPO/Suryo Wibowo

    Siswa sekolah dasar (SD) Budi Mulia Dua mengikuti mengikuti pengarahan saat membuka tabungan baru dari petugas Bank Negara Indonesia (BNI) 46 di Yogyakarta, Rabu (25/4). TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.COJakarta - Lembaga MicroSave Indonesia menyatakan praktek pinjaman mikro melalui joki semakin banyak. Temuan tersebut didasari hasil penelitian MicroSave bersama Kredit Biro Indonesia Jaya.

    Manajer MicroSave Indonesia Grace Retnowati mengatakan banyaknya joki terlihat dari rendahnya penggunaan dana pinjaman untuk diri sendiri. Menurut Grace, pinjaman joki diberikan nasabah lembaga keuangan mikro (LKM), lalu meneruskan pinjaman kepada orang lain yang tidak dapat menerima pinjaman dari LKM.

    Joki nantinya akan menerima persentase pada setiap pencairan dan biaya jasa untuk setiap angsuran. "Sebagai rasa terima kasih," kata Grace di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Rabu, 5 Oktober 2016.

    MicroSave melakukan penelitian dengan Kredit Biro Indonesia Jaya. Penelitian dilaksanakan dengan dukungan dari Opportunity International Australia dan Bank Pembangunan Wirausaha Belanda (Massif Fund).

    Sebanyak 100 nasabah di Jawa Barat menjadi responden. Jawa Barat dipilih karena memiliki penetrasi keuangan mikro yang cukup besar, yaitu 8,87 persen. Penetrasi dihitung berdasarkan perbandingan 100 ribu populasi dengan jumlah kantor cabang di wilayah tersebut.

    Penelitian tersebut menunjukkan nasabah LKM memiliki pinjaman berganda. Salah satu sebabnya ialah kebutuhan akan pinjaman yang masih tinggi. Kebutuhan tersebut kemudian memicu maraknya joki untuk pinjaman.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.