Parah, Minat Mahasiswa terhadap Buku Turun 80 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak melihat buku pelajaran bekas yang dijual di Pertokoan Pasar Sentral, Makassar,  Kamis, 14 Juli 2016. Memasuki tahun ajaran baru, warga memilih membeli buku-buku pelajaran bekas untuk anaknya ditempat ini karena harganya jauh lebih murah. TEMPO/Fahmi Ali

    Anak-anak melihat buku pelajaran bekas yang dijual di Pertokoan Pasar Sentral, Makassar, Kamis, 14 Juli 2016. Memasuki tahun ajaran baru, warga memilih membeli buku-buku pelajaran bekas untuk anaknya ditempat ini karena harganya jauh lebih murah. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Minat mahasiswa berbelanja buku cenderung menurun sejak awal tahun ini, mengakibatkan anjloknya omzet sejumlah toko buku di sekitar kampus perguruan tinggi di Tangerang Selatan mencapai lebih dari 80 persen.

    Syamsul, pemilik toko buku Dinamik dekat kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, mengatakan banyak faktor penyebab mahasiswa kurang bergairah membeli buku dan cenderung memfotokopi buku yang diperlukan.

    Di antara faktornya adalah kondisi keuangan orang tua yang mungkin kurang baik akibat situasi ekonomi nasional yang belum kondusif, biaya hidup mereka yang cenderung meningkat seperti untuk transportasi, makan, dan membeli pulsa, serta perkembangan teknologi telepon pintar (smartphone).

    “Banyak mahasiswa memfotokopi buku yang dibutuhkan atau hanya memfoto halaman buku yang diperlukan dengan smartphone mereka yang canggih-canggih. Akibatnya, omzet hampir semua toko buku anjlok hingga mencapai 70-80 persen,” katanya, Jumat, 23 September 2016.

    Menurut dia, kondisi yang demikian juga dialami oleh hampir semua toko buku di sekitar kampus universitas di wilayah Tangerang Selatan, bukan hanya di UIN Syarif Hidayatullah, tapi Universitas Muhammadiyah Jakarta di Cirende dan Universitas Pamulang di Pamulang.

    Alfiah Rosyidah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cirendeu, Ciputat Timur, mengatakan pernah memergoki mahasiswa yang mendatangi toko buku, bukan untuk membeli tapi dengan sembunyi-sembunyi memfoto halaman buku yang dibutuhkan dengan smartphone­-nya.

    “Saya dan teman-teman tidak setuju dengan cara itu. Lebih baik pinjam saja buku ke teman, kemudian difotokopi. Apalagi tukang fotokopi sekarang bisa membuat cover buku yang hasilnya bagus seperti asli,” ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.