Sentimen Suku Bunga The Fed, IHSG Diperkirakan Tertekan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Monitor menampilkan pergerakan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, 8 April 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    Monitor menampilkan pergerakan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, 8 April 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan.

    Analis Ekonomi dari First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, indeks akan terimbas sentimen pasar kawasan dan global terutama dipicu kekawatiran kenaikan tingkat bunga pada pertemuan The Fed pekan depan. "IHSG di kisaran support di 5.250 hingga resisten 5.320," ujar David Sutyanto dalam pesan tertulisnya, Selasa, 13 September 2016.

    Menurut David, kekhawatiran terhadap kebijakan moneter di sejumlah bank sentral utama dunia juga membuat rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar offshore kemarin melemah hampir 1 persen di Rp 13.236.

    Perdagangan saham pada akhir pekan lalu didominasi tekanan jual di tengah minimnya insentif positif dan meningkatnya risiko pasar saham global dan kawasan. IHSG tutup di 5.281,917, koreksi 89,161 poin (1,7 persen). "Ini merupakan penutupan IHSG terendah sejak perdagangan 29 Juli 2016 lalu," tutur David.

    Saham-saham infrastruktur, perbankan, dan konsumsi menjadi motor penurunan IHSG. Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih hingga Rp 914 miliar.

    Pemodal kehilangan momentum melanjutkan pembelian setelah pasar saham kawasan dan global kembali dikhawatirkan dengan langkah sejumlah bank sentral dunia menahan program stimulusnya di tengah spekulasi kenaikan tingkat bunga FFR pada pertemuan FOMC September ini.

    Akhir pekan lalu Presiden ECB Mario Draghi tidak memberikan sinyal melanjutkan program stimulusnya yang berakhir kuartal pertama tahun depan. Dari domestik, perekonomian domestik, menghadapi meningkatnya risiko fiskal setelah Bank Indonesia (BI) memperkirakan target penerimaan pajak dari program tax amnesty tahun ini hanya mencapai Rp 18 triliun.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan kekurangan penerimaan pajak di APBN 2016 bisa mencapai Rp 219 triliun. Pertumbuhan ekonomi tahun ini juga diperkirakan hanya akan mencapai 5 persen sedangkan tahun depan diperkirakan hanya 5,1 persen turun dari perkiraan sebelumnya 5,3 persen.

    Selama sepekan IHSG koreksi 1,3 persen melanjutkan koreksi pekan sebelumnya 1,6 persen. Seiring meningkat resiko pasar, dana asing sepekan kemarin keluar hingga Rp 813,60 miliar melanjutkan pekan sebelumnya yang keluar Rp 2,02 triliun.

    Tadi malam Wall Street berhasil menguat setelah akhir pekan lalu anjlok hingga 2 persen. Indeks DJIA dan S&P tadi malam masing-masing ikut menguat 1,32 persen dan 1,47 persen di 18325,07 dan 2159,04. Menurut David, kenaikan itu karena pasar merespon positif pernyataan salah satu pejabat bank sentral AS Lael Brainard yang mengindikasikan kebjakan The Fed tetap akan akomodatif terhadap pasar.

    Saham Pilihan

    BBNI 5550-5850 BoW, SL 5400
    BBTN 1980-2100 BoW, SL 1870
    JSMR 4750-4900 Buy, SL 4700
    PWON 600-640 TS, SL 570
    INDF 8050-8300 BoW, SL 8000
    LSIP 1540-1640 BoW, SL 1500
    BBRI 11500-12000 BoW, SL 11400
    ADRO 1220-1300 TS, SL 1160
    PTBA 9850-10500 BoW, SL 9600
    GJTL 1400-1520 BoW, SL 1350

    DESTRIANITA K


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.