Sudirman Said: PLN Jangan Protes, Nanti Durhaka!  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa instalasi transmisi listrik di Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET) PT PLN (Persero) di Bengkayang, Kalimantan Barat, 10 Mei 2016. GITET Bengkayang merupakan tempat transmisi listrik interkoneksi dari Serawak, Malaysia diterima dan disalurkan ke enam wilayah di provinsi tersebut. TEMPO/PRAGA UTAMA

    Petugas memeriksa instalasi transmisi listrik di Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET) PT PLN (Persero) di Bengkayang, Kalimantan Barat, 10 Mei 2016. GITET Bengkayang merupakan tempat transmisi listrik interkoneksi dari Serawak, Malaysia diterima dan disalurkan ke enam wilayah di provinsi tersebut. TEMPO/PRAGA UTAMA

    TEMPO.COJakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said memberi ceramah singkat dalam diskusi soal Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2016-2025 di kantornya. Sudirman meminta PLN sebagai pelaksana kegiatan tidak mangkir dari kebijakan pemerintah.

    "Saya sudah kehabisan cara. Mohon hentikan kebiasaan memprotes kebijakan pemerintah," ujarnya di Jakarta, Jumat, 22 Juli 2016.

    Menurut Sudirman, Kementerian Energi telah menyusun regulasi yang memudahkan investasi program 35 ribu megawatt. Misalnya, Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2015, Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2015, dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2015. Namun PLN merasa kebijakan tersebut tidak berpihak kepada perusahaan. 

    Sudirman menganggap hal itu aneh. Sebab, PLN tidak pernah luput dilibatkan Kementerian Energi dalam penyusunan kebijakan. "Kami duduk sama-sama, kok."

    Dia juga keberatan dengan tingkah Direktur Utama PLN Sofyan Basir yang kerap memprotes lewat media massa. "Padahal kami 'ibu' yang melahirkan PLN. Sudah mengandung, menyusui, tapi disakiti di depan publik. Jangan protes ke ibu, nanti durhaka," kata Sudirman.

    Diskusi bernama “Coffee Morning” ini tidak dihadiri Sofyan. Hanya ada Direktur Perencanaan Nicke Widyawati.

    Sofyan sebelumnya telah menampik tudingan yang menilai PLN tidak berpihak pada investasi listrik swasta. Masalahnya, perseroan sebagai eksekutor megaproyek harus memastikan kelangsungan program berjalan efektif dan tepat waktu. "Kami memang berhati-hati karena progres proyek yang lama sangat lambat. Bukan mempersulit, tapi menyaring," tutur Sofyan awal Juni lalu.

    Selama ini, Sofyan mengatakan, PLN menyeleksi secara ketat investor yang ikut tender proyek listrik. Dia tidak ingin program ini diikuti investor yang hanya bermodalkan kertas, seperti program Fast Track tahap I dan II. Akibatnya, banyak pembangkit yang mangkrak.

    Dia mengklaim upaya ini cemerlang. Sejak peluncuran program pada Mei tahun lalu, kemajuan pembangunan pembangkit mencapai 24,9 persen. Proyek yang sudah berkontrak mencapai 49 persen atau 18 ribu MW. Dari angka ini, 3.275 MW masuk tahap perencanaan, 9.680 masuk tahap tanda tangan kontrak, 2.883 MW masuk tahap konstruksi, 3.480 MW tahap pengadaan.

    Adapun tahap pembangunan transmisi, kemajuannya 36 persen atau sebesar 16.712 kms. Transmisi yang telah difungsikan sebesar 2.792 kms atau 6 persen dan tahap pra-konstruksi sebesar 27.098 kms atau 58 persen. "Kemajuan ini masih on the track. Sesuai target," ucap Sofyan.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.