Anomali Cuaca, Produksi Bawang Merah Turun 50 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani sedang memasukan bawang merah saat panen, di desa Pejagan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (29/12). Harga bawang merah saat ini  mengalami penurunan harga secara drastis Rp 8 ribu per kilogram dari Rp. 20ribu per kilogram.TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang petani sedang memasukan bawang merah saat panen, di desa Pejagan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (29/12). Harga bawang merah saat ini mengalami penurunan harga secara drastis Rp 8 ribu per kilogram dari Rp. 20ribu per kilogram.TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COBrebes - Produksi bawang merah pada masa panen Juli ini menurun 50 persen. Anjloknya produktivitas bumbu utama dapur itu diduga karena cuaca yang tak menentu dalam beberapa pekan terakhir ini. “Bulan ini produktivitasnya buruk sekali,” kata Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Juwari di Brebes, Jawa Tengah, Rabu, 20 Juli 2016.

    Juwari mengungkapkan, produksi bawang merah pada Juli ini 6-7 ton per hektare. Padahal, normalnya, dalam 1 hektare bisa dihasilkan hingga 12 ton. “Turun 50 persen,” ujarnya.

    Sebelumnya, asosiasi mengira pasokan bawang merah pada Juli ini akan berlimpah lantaran banyak daerah mengalami panen raya di Jawa Tengah. Daerah itu antara lain Brebes, Kendal, Tegal, dan Cirebon. Asosiasi saat itu memprediksi ada 3.000 hektare lahan yang siap panen, dengan produktivitas 36 ribu ton. Namun, karena cuaca buruk, hasil panen bawang merah kali ini hanya sekitar 18 ribu ton.

    Penurunan produksi ini juga disebabkan banyaknya lahan pertanian yang dilanda banjir. Kualitas bawang merah memburuk karena terendam air. Di Kecamatan Wanasari, Brebes, kata Juwari, ada sekitar 100 hektare sawah yang terkena banjir. Di antaranya di Desa Siasem, Sidamulya, dan Lengkong. “Selain tidak produktif, kualitas bawang menurun,” ujar dia.

    Penurunan produktivitas ini mempengaruhi harga di tingkat petani. Menurut Juwari, saat ini petani membanderol harga bawang merah Rp 26-27 ribu per kilogram. Harga itu meningkat tajam dibanding harga bulan lalu, yang di tingkat petani tidak lebih dari Rp 20 ribu per kilogram. “Petani juga tidak mau rugi.”

    Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tegal, Hendy Andriyanto, mengungkapkan, Juli ini sebenarnya sudah masuk musim kemarau. Tapi, dalam beberapa hari terakhir, turun hujan di wilayah Pantura. Penyebabnya, ada tekanan rendah di sebelah barat daya Sumatera, sehingga terjadi belokan angin shear line di Jawa. “Kondisi itu memicu pengumpulan uap air di Pulau Jawa sehingga terjadi hujan,” tuturnya. 

    Menurut Hendy, jika tekanan rendah ini tak berubah menjadi badai tropis, kondisi tersebut akan berlangsung selama dua-tiga hari ke depan. Tapi, jika terjadi badai tropis, wilayah Pulau Jawa akan diguyur hujan hingga sepekan ke depan. Penyebab lain adalah fenomena La Nina. Pada Agustus-Oktober mendatang, La Nina masuk fase moderat. 

    “Kalau terjadi La Nina, suhu muka air laut hangat, sehingga penguapan air banyak dan menimbulkan awan dan hujan,” ujar Hendy.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.