Lawan Tengkulak Beras, Begini Strategi Pemkab Karawang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi beras Bulog/Badan Urusan Logistik. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi beras Bulog/Badan Urusan Logistik. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Karawang - Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana memiliki ide untuk melawan tengkulak. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan urusan logistik Subdivre Karawang, Mohammad Alexander.

    Menurut Alex, aksi tengkulak di Karawang dapat merusak harga beras di pasaran. Ia mengaku pernah terlibat pembahasan dengan Cellica ihwal strategi mengurangi dampak pencaloan tengkulak beras di Karawang.

    Alex mengatakan bupati menganggap perlu menganggarkan subsidi petani. "Misalnya di Bulog itu hanya membeli gabah seharga Rp 3.700 perkg, sedangkan harga pasaran di tengkulak Rp 4500 per kilo. Sehingga sisanya sebesar Rp 800 pemkab yang menanggung," ungkap Alex, saat ditemui di kantornya, Selasa, 22 Maret, 2016.

    Ia menyatakan, Bulog mendukung jika Pemda akan membeli gabah para petani. "Kita akan mendukung, jika pemkab mau seperti itu," kata Alex.

    Namun, Alex menyebutkan sejauh ini belum ada pembahasan lebih dalam mengenai subsidi harga tersebut. "Itu ide bu Cellica, saat ini belum ada pembahasan lebih dalam,"ucap dia.

    Senada dengan Alex, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Karawang, Toto Suripto meminta  Pemkab Karawang untuk menganggarkan pembelian gabah  petani ketika panen. "Kami sangat berharap Pemkab melalui Dinas Pertaniannya atau Badan Ketahanan Pangannya menganggarkan pembelian gabah disaat para petani ini panen," ujar Toto.

    Ia yakin, jika rencana itu dapat disetujui oleh seluruh anggota DPRD Kabupaten Karawang. "Uangnya ada, dinas terkait cuma perlu mengajukan sesuai prosedur," kata dia. "Ini lampu hijau untuk pemkab, semua kebaikan untuk rakyat kita pasti dukung," kata Toto.

    HISYAM LUTHFIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.