Kopi Arabica Gayo Terdaftar di Pasar Uni Eropa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran Kopi Gayo dan Batu Giok Aceh di Gedung Nusantara V DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, 3 September 2014. Acara tersebut berlangsung sampai 6 September. Tempo/Mustafa Ismail

    Pameran Kopi Gayo dan Batu Giok Aceh di Gedung Nusantara V DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, 3 September 2014. Acara tersebut berlangsung sampai 6 September. Tempo/Mustafa Ismail

    TEMPO.CO, Banda Aceh -Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG), Mustafa Ali mengatakan  pada bulan Juni 2016 mendtang, Indikasi Geografis Kopi Arabica Gayo secara resmi terdaftar di Uni Eropa

    "Saat ini hanya tinggal membuat buku persyaratan saja, untuk pengakuan secara geografis," kata  Mustafa, Kamis 17 Maret 2016.

    Menurutnya akhir tahun lalu Logo dan merek dagang Kopi Arabica Gayo sudah diakui di pasar Uni Eropa. Dengan selesainya buku persyaratan, maka Indikasi Geografis Kopi Arabica Gayo resmi terdaftar di Uni Eropa

    Mustafa menyebutkan setidaknya ada dua  kali pertemuan lagi yang diperlukan. Pertemuan difasilitasi Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

    Baca: Jadi Koperasi, Grab Belum Akan Ubah Tarif

    Pertemuan tersebut nantinya kata Mustafa akan membahas lebih lanjut mengenai isi buku persyaratan bersama tim dari Trade Corporation Facilities (TCF) Uni Eropa - Indonesia.

    Sebelumnya pada November 2015, sebanyak 19 anggota Tim Asosiasi Kopi Eropa atau SCAE (Specialty Coffee Association of Europe) datang ke Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, sebagai penghasil kopi Gayo. Mereka meninjau langsung perkebunan kopi rakyat selama sepekan.

    Saat itu, Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Mustafa Kamal menyebutkan kunjungan tersebut guna menjalin hubungan kerja sama yang baik antara eksportir dan asosiasi tersebut.

    ADI WARSIDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.