KPPU Mengaku Sedang Investigasi Praktik Kartel Harga Beras

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bulog. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi Bulog. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengaku tengah menginvestigasi dugaan praktik kartel pada komoditas beras guna mencegah permainan harga pangan inti tersebut.

    Ketua KPPU Syarkawi Rauf menyatakan pada akhir 2015 pihaknya telah melakukan kajian ke sejumlah daerah yang menjadi sentra beras di Indonesia, dan ditemukan fakta unik di Pasar Cipinang, Jakarta.

    "Waktu itu ada stok beras medium agak berkurang. Tapi, anehnya di Karawang justru melimpah. Ini kenapa bisa seperti itu polanya?," katanya kepada Bisnis, Selasa (1 Maret 2016).

    Pihaknya menduga ada oknum pedagang di pasar tersebut yang sengaja menghambat masuknya beras lokal, karena ingin mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar dari beras impor yang keuntungannya lebih tinggi.

    Di samping itu, pedagang yang selama ini berteriak-teriak saat pemerintah menghentikan impor beras adalah pedagang di Pasar Cipinang. Sedangkan pedagang daerah lainnya tidak seperti itu.

    "Februari tahun ini persediaan beras kualitas medium cukup banyak. Bahkan dibandingkan Februari 2015 meningkat 120%. Artinya, ada pedagang besar sejak Oktober 2015 membeli beras dari sentra produksinya, kemudian disimpan agar harganya naik pada Februari ini.

    Berdasarkan perhitungan KPPU, awal tahun merupakan masa paceklik sehingga pedagang menimbun beras sejak tiga bulan lalu dan telah berencana untuk melepas beras pada awal tahun ini yang dikira harganya akan tinggi.

    "Ternyata prediksi itu salah, karena sejumlah daerah mulai panen dan sekarang mereka mau tidak mau harus menjualnya. Kami akan terus dalami temuan ini," tegasnya.

    Sementara itu, Ketua HKTI Jabar Entang Sastraatmadja menilai praktik mafia bisa saja terjadi pada komoditas apapun, tetapi pemerintah harus bisa memastikan petani bisa menikmati keuntungan di saat harga tinggi.

    "Pemerintah mengatur dan mengawasi ketat tata niaga beras agar petani yang menanam tidak terus-menerus dirugikan seperti selama ini," ujarnya.

    Dihubungi terpisah, Kepala BPS Jabar Bachdi Ruswana mengatakan pada Februari 2016 harga rata-rata gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp5.386/kg, atau naik 0,19% dibandingkan dengan Januari Rp5.376/kg.

    "Sementara untuk harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani turun 0,48% dari Rp5.951/kg menjadi Rp5.922/kg," ujarnya.

    Demikian juga gabah kualitas rendah turun 1,82% dari Rp4.221/kg menjadi Rp4.144/kg.

    Adapun, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan Rp9.895/kg atau naik 1,33% dibandingkan Januari Rp9.765/kg.

    Berdasarkan kualitas beras yang dikelompokkan menurut patahannya (broken), harga beras premium naik 2,60% dari Rp9.978/kg,75 per kilogram menjadi Rp10.238,33 per kilogram, beras medium naik 0,36% dari Rp9.643/kg menjadi Rp 9.678/kg.

    "Demikian juga beras kualitas rendah naik 1,04% dari Rp9.314/kg menjadi Rp9.411/kg," ungkapnya.

     BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.