H&M Ingin Genjot Produksi Pakaian di Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung toko busana H&M mengantre di depan kasir di Mall Pondok Indah, Jakarta (9/10).  Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah pengunjung toko busana H&M mengantre di depan kasir di Mall Pondok Indah, Jakarta (9/10). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan pakaian asal Swedia, H&M, berencana meningkatkan kerja sama perdagangan di Indonesia. Dalam kunjungannya ke Istana Presiden, Menteri Perdagangan Thomas Tri Kasih Lembong mengatakan perusahaan asal Swedia itu akan menambah kapasitas produksinya di Indonesia. "Kerja sama ini berkaitan dengan paket kebijakan revisi daftar negatif investasi," ucap Lembong di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu, 24 Februari 2016.

    Menurut Lembong, penambahan kapasitas tak hanya untuk memasok pasar Indonesia semata tapi juga memenuhi permintaan di luar negeri atau ekspor. Peningkatan produksi pakaian berlabel H&M nantinya juga akan diikuti oleh pembukaan gerai-gerai baru di Indonesia.

    Baca juga: BKPM: 16 Perusahaan Padat Karya Dapat Pembebasan Bea Impor

    Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan, kata Lembong, dalam setahun total nilai pasokan produk-produk H&M untuk Indonesia mencapai US$ 300-400 juta. "Sebanyak 98 persen di antaranya diekspor," katanya.

    Peningkatan kapasitas produksi hanya salah satu komitmen yang ingin diwujudkan antara pemerintah Indonesia dan pelaku usaha pakaian dari Swedia. Ke depan, Lembong ingin kerja sama semakin meningkat tak hanya menyangkut produksi tapi juga dalam urusan desain pakaian.

    Baca juga: RI Dalami Kemungkinan Perdagangan Bebas dengan Uni Eropa

    Lembong mengatakan industri pakaian Indonesia mempunyai masa depan yang cerah lantaran sangat cocok dengan budaya kreatif dan banyak melibatkan kalangan muda. Ekspor tekstil sendiri termasuk salah satu sektor unggulan menyumbang devisa bagi negara. Tercatat ekspor produk tekstil mencapai US$ 13 miliar per tahun sekaligus menyerap 2,7 juta tenaga kerja.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.