Program Konversi Elpiji Melon Hemat Rp 197 Triliun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stasiun Pengisian Bulk Elpiji Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur, Senin (22/12). Pertamina memperkirakan konsumsi elpiji akan naik menjadi 3 - 3,3 juta ton pada 2009 yang dipicu program konversi minyak tanah ke elpiji. ANTARA/Arief Priyono

    Stasiun Pengisian Bulk Elpiji Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur, Senin (22/12). Pertamina memperkirakan konsumsi elpiji akan naik menjadi 3 - 3,3 juta ton pada 2009 yang dipicu program konversi minyak tanah ke elpiji. ANTARA/Arief Priyono

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah mendistribusikan 57,19 juta paket tabung gas dalam program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram (elpiji melon). Perusahaan pelat merah ini mengklaim program tersebut sukses karena telah menghemat hingga Rp 197,05 triliun sejak 2007 itu hingga 31 Desember 2015.

    "Program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram tergolong sukses dalam waktu cepat," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Purponegoro dalam temu media, Jumat, 12 Februari 2016, di Hong Kong Cafe, Menteng, Jakarta. Bahkan dia menyebut program tersebut telah menjadi contoh bagi negara-negara lainnya.

    Wianda menjelaskan, salah satu indikator sukses program tersebut dapat mendistribusikan 57,19 juta paket hanya dalam waktu sembilan tahun program berjalan. Pola konsumsi energi masyarakat juga berubah secara masif dari semula menggunakan minyak tanah ke elpiji 3 kilogram.

    Baca juga: 2015, Pemerintah Salurkan 1,2 Juta Paket Elpiji 3 Kilogram

    Program ini juga mendorong kemajuan industri tabung elpiji dan membuka lapangan kerja. Saat ini sebanyak 89 juta tabung elpiji 3 kilogram beredar di masyarakat.

    Namun, menurut Wianda, sukses utama program ini sebenarnya adalah bisa menekan subsidi minyak tanah dimana secara akumulatif penghematan subsidinya sejak pertama kali bergulir hingga saat ini telah mencapai Rp 197,05 triliun. Ini terlihat dari konsumsi minyak tanah yang turun dari 9,85 juta kiloliter menjadi hanya 850 juta kiloliter yang di antaranya digunakan untuk UMKM dan masyarakat di daerah yang belum terkonversi.

    Konversi ke elpiji melon telah dilakukan di seluruh Indonesia, kecuali Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat berikut pulau-pulau kecil karena keterbatasan infrastruktur dasar. Saat ini, terdapat 3.250 agen dan 128.044 pangkalan elpiji 3 kilogram yang tersebar hingga pelosok. Pertamina kini berfokus menyediakan elpiji kepada masyarakat yang terus mengalami pertumbuhan mencapai 13-14 persen per tahun.

    Baca juga: Pindad Akan Memproduksi Tabung Elpiji

    Pertamina memproyeksikan konsumsi elpiji melon pada 2016 mencapai 6,6 juta metrik ton. Angka ini meningkat dibandingkan dengan realisasi permintaan pada tahun lalu sebesar 5,57 juta metrik ton.

    Wianda mengatakan Pertamina berkomitmen untuk memanfaatkan elpiji hasil produksi dalam negeri. "Saat ini tambahan produksi dalam dalam negeri diperoleh dari RFCC, TPPI, dan Kilang LPG Mundu dengan total penambahan sekitar 1.650 MT per hari," katanya.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?