Risiko Pasar Saham Global Rendah, IHSG Diperkirakan Menguat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, memperkirakan, pada perdagangan hari ini, indeks harga saham gabungan akan melanjutkan penguatannya menyusul rendahnya risiko pasar saham global serta beberapa sentimen positif lain yang mendorong laju IHSG di zona hijau.

    "IHSG akan bergerak dalam rentang lebar 4.580-4.680 di teritori positif menyusul rendahnya risiko pasar saham global dan kawasan, merespons kebijakan pelonggaran moneter sejumlah bank sentral utama dunia," ujar David Sutyanto dalam siaran tertulisnya, Senin, 1 Februari 2016.

    Pada perdagangan akhir pekan lalu setelah bergerak fluktuatif dan sempat melemah 34 poin, IHSG berhasil tutup menguat terbatas 12.334 poin di posisi 4.615,163. Menurut David, ini merupakan penutupan IHSG tertinggi sejak perdagangan 4 November 2015.

    Selain itu, ucap David, nilai transaksi di pasar reguler akhir pekan lalu melonjak hingga Rp 6,7 triliun dibanding rata-rata harian Januari 2016 yang hanya Rp 3,9 triliun. Pembelian bersih asing melonjak akhir pekan lalu hingga Rp 1,4 triliun setelah tiga pekan sebelumnya cenderung mencatatkan penjualan bersih.

    Sentimen positif terutama berasal dari sentimen kawasan Asia setelah bank sentral Jepang, Bank of Japan, secara mengejutkan menerapkan kebijakan suku bunga negatif dengan menurunkan tingkat bunga acuannya menjadi minus 0,1 persen.

    Sebelumnya, pasar juga bereaksi positif atas langkah The Fed menahan tingkat bunganya dan komitmen European Central Bank memperbesar nilai anggaran program stimulus dari jumlah US$ 1,6 triliun saat ini pada pertemuan Maret mendatang.

    Dari domestik, sentimen positif digerakkan dengan ekspektasi berlanjutnya kebijakan pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia dan perkembangan situasi politik yang lebih kondusif setelah Partai Golongan Karya--partai kedua terbesar di parlemen--menyatakan mendukung pemerintah.

    Sedangkan Wall Street akhir pekan lalu melanjutkan tren penguatannya. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 2,5 persen akhir pekan lalu dengan tutup di posisi 16.466,30 dan 1.940,24. Sepekan terakhir, indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 2,3 persen dan 1,7 persen.

    Penguatan indeks saham Wall Street akhir pekan lalu dipicu respons positif pelanjutan kebijakan stimulus oleh BoJ dengan menerapkan tingkat bunga negatif, data manufaktur AS yang lebih baik dari perkiraan, laporan laba emiten 4Q15, dan stabilitas harga minyak mentah dunia.

    Harga minyak mentah akhir pekan lalu menguat 1,2 persen di posisi US$ 33,74 per barel. Selama sepekan terakhir, harga minyak mentah di Amerika Serikat menguat 4,8 persen. Harga minyak mentah yang kembali naik juga turut memberikan sentimen positif atas pergerakan saham energi dan pertambangan logam.

    DESTRIANITA KUSUMASTUTI  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.