Cuaca Ekstrem, BMKG Minta Transportasi Publik Selalu Update

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah ombak besar yang berasal dari sungai Qiantang, tengah menerjang para pengunjung. Deburan ombak begitu tinggi, terlihat dari riak gelombang.  Zhejiang, Tiongkok, 31 Agustus 2015. Getty Images

    Sebuah ombak besar yang berasal dari sungai Qiantang, tengah menerjang para pengunjung. Deburan ombak begitu tinggi, terlihat dari riak gelombang. Zhejiang, Tiongkok, 31 Agustus 2015. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menginformasikan potensi cuaca dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Indonesia, yang dapat mempengaruhi transportasi publik.

    "Perhatikan update BMKG di website kami. Seminggu terakhir ini cuaca ekstrim, 90 persen wilayah Indonesia masuk musim hujan," kata Yunus Subagyo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu, 27 Januari 2016.

    Yunus menjelaskan, khusus bagian selatan khatulistiwa, akan mencapai puncak musim hujan pada akhir Januari dan Februari 2016 dengan curah hujan tinggi. "Peluang hujan melebihi kriteria menengah. Umumnya, curah hujan 150 milimeter per bulan," katanya.

    Hal ini ditandai beberapa hal, salah satunya dengan menguatnya monsoon dingin Asia disertai sentakan dingin (cold surge).

    Yunus menerangkan, menguatnya monsoon Asia mengindikasikan peluang pembentukan awan yang berpotensi hujan di sekitar Sumatera dan bagian barat Kalimantan mulai bertambah.

    Berikutnya, fase Madden Julian Oscillation yang menunjukkan fase bawah wilayah maritim kontingen Indonesia. "Kondisi ini memicu pertumbuhan awan-awan di sekitar Indonesia bagian barat dan tengah."

    Selain itu, menurut Yunus, potensi hujan lebat juga disebabkan Indian Ocean Dipole yang bernilai negatif serta potensi daerah Inter Tropical Convergence Zone yang menguat.

    Yunus mengungkapkan, angin menjadi penyebab naiknya gelombang di wilayah perairan Indonesia sebesar 60 persen.

    Data BMKG menunjukkan potensi tinggi gelombang sekitar 1,25 sampai 2,5 meter berpeluang terjadi di perairan barat Sumatera, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga Bali, Lautan Natuna, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Banda, Laut Flores, perairan utara Sumbawa sampai utara Flores, dan Laut Arafura.

    Sementara itu, potensi gelombang 2,5 sampai 4,0 meter berpeluang terjadi di perairan utara Aceh, perairan Kepulauan Natuna sampai Kepulauan Anambas, perairan selatan NTB sampai NTT, perairan Kepulauan Talaud, perairan utara Halmahera, Laut Halmahera, dan Samudera Pasifik utara Halmahera, sampai Papua.

    "Potensi tinggi gelombang lebih dari 4 meter berpeluang di wilayah Laut Cina Selatan dan perairan timur Filipina," ujar Yunus.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.