Suku Bunga Bank Indonesia Diprediksi Kembali Turun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.COJakarta - Direktur Investasi PT CIMB-Principal Asset Management (CPAM) Cholis Baidowi menilai penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 0,25 persen merupakan kebijakan akomodatif. “Indikasi suku bunga kredit akan turun sudah mulai kencang,” kata dia di kantornya, Jumat, 22 Januari 2016.

    Cholis menilai penurunan suku bunga BI sudah diperkirakan sebelumnya. Menurut dia, 0,25 persen bukan angka yang mengejutkan. Ia juga mengatakan portofolio di perusahaannya tidak berubah. Ia akan memanfaatkan sebesar mungkin penurunan suku bunga tersebut untuk peningkatan sektor perbankan, konstruksi, dan properti. 

    Namun Cholis menyebutkan masing-masing reksadana memiliki kebijakan sendiri. Untuk sektor berbasis ekuitas, ia mengatakan, sebesar 80 persen harus berisi saham. Begitu juga obligasi, kata dia, memiliki aturan dan kebijakan sendiri.

    Cholis memprediksi suku bunga BI akan kembali turun pada angka 0,5 persen atau menjadi 7 persen. Penurunan itu ia harapkan berdampak terhadap penurunan suku bunga kredit di CIMB. Ia menilai penurunan 0,25 persen belum berdampak pada pasar global. Menurut dia, mereka masih menunggu momentum yang tepat. “Hampir semua pelaku pasar modal begitu,” tuturnya.

    Menurut Cholis, ekonomi Indonesia mulai menunjukkan tren pemulihan sejak kuartal keempat 2015. Hal itu tampak dari realisasi belanja pemerintah yang meningkat serta pemulihan pada penjualan otomotif, semen, dan retail. Sementara tingkat inflasi pada 2015 hanya 3,4 persen, Cholis menilai, pada 2016 akan tetap relatif rendah. Akibatnya, suku bunga obligasi dari Indonesia tertinggi kedua di seluruh Asia.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.