Gaet Banyak Investor, Bursa Gelar Investor Summit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo mendengarkan penjelasan dari Dirut BEI Tito Sulistio (kiri) yang didampingi Ketua OJK Muliaman Hadad (dua kiri) dan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida (empat kiri) saat meninjau Galeri Sejarah Pasar Modal Indonesia usai menghadiri peringatan '38 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia' di Gedung Bursa Efek Jakarta, 10 Agustus 2015. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo mendengarkan penjelasan dari Dirut BEI Tito Sulistio (kiri) yang didampingi Ketua OJK Muliaman Hadad (dua kiri) dan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida (empat kiri) saat meninjau Galeri Sejarah Pasar Modal Indonesia usai menghadiri peringatan '38 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia' di Gedung Bursa Efek Jakarta, 10 Agustus 2015. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia kembali menggelar Investor Summit and Capital Market Expo (ISCME).

    Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio menjelaskan, ISCME merupakan acara tahunan yang melibatkan para pelaku industri pasar modal dengan menyelenggarakan public expose dari puluhan perusahaan yang tercatat di BEI.

    Emiten ini yang akan secara langsung menjabarkan update terbaru kinerja dan rencana kerja mereka, talk show dengan sosok-sosok inspiratif, pameran produk-produk pasar modal, serta peluncuran program-program strategis industri pasar modal.

    ISCME 2015 akan diselenggarakan mulai 9 hingga 13 November 2015 di gedung BEI dengan menghadirkan 81 emiten. "Sebanyak 81 emiten akan melakukan presentasi kepada publik," ujar Tito di gedung BEI, Senin, 9 November 2015.

    Acara yang bertema ''Yuk Nabung Saham'' ini, tutur Tito, tidak semata bertujuan menambah jumlah investor baru dan investor aktif. "Tapi juga berupaya menanamkan kebutuhan berinvestasi di pasar modal."

    Tito berharap investasi di pasar modal dapat menjadi salah satu sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam pelaksanaannya, BEI menggandeng perusahaan tercatat, perusahaan sekuritas, manajer investasi, serta galeri investasi BEI di seluruh Indonesia untuk menjadi partner dalam berbagai kegiatan edukasi dan pemasaran yang berkaitan dengan kampanye ini.

    Kepala Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida menuturkan rendahnya likuiditas pasar modal perlu mendapat perhatian. Sebab, perekonomian negara maju sebagian besar ditopang pasar modal. "Kalau kita lihat negara maju, peran pasar modal seimbang dengan peran jasa-jasa keuangan lain, seperti perbankan," katanya.

    Menurut Nurhaida, untuk memajukan perekonomian suatu bangsa dibutuhkan pengembangan infrastruktur dan sektor riil. Pengembangan infrastruktur yang membutuhkan jangka waktu dinilai sangat cocok dengan konsep pasar modal.

    "Kalau kita lihat dalam pasar modal, instrumen seperti saham adalah instrumen jangka panjang, tidak ada dividen. Juga obligasi jika dijual emiten akan berjangka panjang," ucap Nurhaida.

    Nurhaida berujar, kendala selama ini yang dialami pasar modal adalah sedikitnya jumlah investor. Dari 250 juta masyarakat, hanya 420 ribu yang menjadi investor, kurang dari 0,02 persen. "Pemahaman tentang pasar modal masih kurang sekali."

    Ia menuturkan acara ini merupakan upaya yang dilakukan BEI dan OJK untuk memperbaiki iklim investasi. Besarnya pengaruh global terhadap pasar modal tidak bisa dikontrol. "Kita hanya bisa mengantisipasi agar gejolak itu tidak semakin besar," katanya.

    MAYA AYU PUSPITASARI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.