Jokowi Inginkan Gudang Logistik Indonesia Seperti Dubai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat bertolak ke Timur Tengah dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 11 September 2015. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo saat bertolak ke Timur Tengah dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 11 September 2015. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Dubai - Presiden Joko Widodo menginginkan gudang logistik yang dimiliki Indonesia menyerupai Dubai. Menurut Jokowi, gudang logistik di Dubai sangat efisien dan memiliki manajemen yang sangat baik.

    "Manajemen baik dan biaya tidak mahal sehingga bisa lebih efisien," kata Jokowi di sela kunjungannya ke gudang logistik terbesar di Dubai, G2 International Techno Park, Dubai, Senin, 14 September 2015.

    Selain itu, Jokowi menilai manajemen logistik yang baik memungkinkan Indonesia bisa menyimpan lebih banyak komoditas. "Bisa untuk menyimpan ayam, daging, beras, dan semuanya, termasuk produk buah-buahan," katanya.

    Jokowi mengatakan, jika Indonesia mampu mencontoh Dubai dalam mengelola gudang logistik, maka semua produk komoditas yang dihasilkan petani bisa langsung dibeli pemerintah. "Semua produksi harus diambil oleh Bulog atau perusahaan-perusahaan, sehingga memberikan semangat kepada petani," ucapnya.

    Presiden Jokowi mengatakan, dalam dua minggu ke depan, tim dari Indonesia dan tim dari Persatuan Emirat Arab akan berdiskusi tentang investasi gudang logistik ini. "Apakah investasinya merupakan gabungan atau sendiri-sendiri, akan ditentukan tim teknis," katanya. Gudang logistik yang didatangi Presiden dilengkapi refrigerator dan tampak bersih serta barang-barangnya tertata rapi.

    Tampak hadir pula mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan tersebut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, dan Kepala BKPM Franky Sibarani.

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.