BBM Penyumbang Inflasi Terbesar di Yogyakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pedagang menata bahan makanan jualannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/1). ANTARA/Zabur Karuru

    Seorang pedagang menata bahan makanan jualannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/1). ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Bahan bakar minyak menjadi komponen penyumbang terbesar dalam inflasi di Yogyakarta pada Juni 2015, yang mencapai 0,35 persen. Kepala Badan Pusat Statistik Yogyakarta, Bambang Kristianto, mengatakan BBM menjadi penyumbang naiknya ongkos distribusi komoditas selama Ramadhan tahun ini. “Bensin (BBM) menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen,” kata Bambang di kantor BPS, Rabu, 1 Juli 2015.

    Menurut dia, kebutuhan masyarakat untuk mengonsumsi sejumlah komoditas bertambah selama bulan puasa. Kota Yogyakarta harus mendatangkan komoditas dari luar Yogyakarta. Misalnya bawang merah yang didatangkan dari Nganjuk, Jawa Timur, nangka muda dari Lampung, dan gula merah dari Kabupaten Kulon Progo.

    Ini mempengaruhi ongkos distribusi barang yang didatangkan dari luar Kota Yogyakarta. Dia mencontohkan biaya pengiriman gula merah dari Kabupaten Kulon Progo ke Kota Yogyakarta yang naik 10 persen. Misalnya dari Rp 1 juta menjadi Rp 1,1 juta untuk satu kali angkut barang.

    Selain bensin, tekanan inflasi kompenen lain, yang datang dari harga yang diatur pemerintah adalah tarif dasar listrik. Sedangkan, komoditas yang paling mempengaruhi inflasi adalah daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, dan beras. Daging ayam ras menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen, telur ayam ras 0,03 persen, cabai merah, beras, gula pasir, dan apel 0,02 persen.

    Bambang menyatakan angka inflasi pada periode yang sama dibanding dengan tahun lalu untuk saat ini lebih rendah. Pada Juni 2014, angka inflasi di Kota Yogyakarta 0,43 persen.

    Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Tri Widodo, mengatakan memprediksi inflasi selama bulan puasa dan Lebaran tahun 2015 akan lebih tinggi ketimbang periode yang sama pada tahun lalu. Penyebabnya adalah pemerintah mencabut subsidi bahan bakar minyak sebagai penyumbang inflasi.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.