Sumber Daya dan Kekuatan Finansial Modal Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia diyakini bisa berbicara banyak di bisnis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kawasan regional bahkan global, karena memiliki sumber daya dan kekuatan finansial.

    "Bisnis TIK itu padat modal. Namun, perusahaan Indonesia bisa semakin diperhitungkan di sektor ini asalkan mendapat dukungan regulasi, pemodalan dan ekosistem," kata Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin, di Jakarta, Rabu (17 Juni 2015).

    Dalam sebuah diskusi soal TIK, Doni mengatakan salah satu contoh korporasi yang sudah sejak lama ekspansi keluar negeri adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dengan mengembangkan layanannya ke lebih 10 negara.

    Sedangkan secara perorangan, Indonesia semakin ditakuti lewat Profesor Khoirul Anwar, penemu dan sekaligus pemilik paten teknologi seluler generasi ke empat (4G), yang kemudian menjadi standar International Telecommunication Union (ITU).

    Doni menjelaskan, tidak mudah bagi sebuah perusahaan atau perorangan berkiprah di kancah internasional, karena standar penilaian yang diterapkan kala berkompetisi di pasar internasional sangat tinggi.

    Telkom misalnya, melalui anak usahanya Telkom Internasional (Telin) saat ini berhasil mendirikan pusat data di Data Center Park, Jurong, Singapura.

    "Ini tidak mudah. Kompetisi untuk masuk Singapura yang menjadi 'hub' internet internasional sulit sekali. Telkom bisa masuk di sana mengalahkan perusahaan global, patut dibanggakan," ujarnya.

    Menurut catatan, sejak 7 tahun berdiri Telin Singapura telah memiliki dua Data Center di negeri Singa itu yang selama ini melayani perusahaan multinasional.

    "Ekspansi Telin Singapura menandakan bahwa Telkom bukan jago kandang, tetapi mampu bersaing dalam melayani pasar TIK di luar negeri," tegasnya.

    Sebelumnya diberitakan, Telkom segera membentuk perusahaan patungan dengan Singapore Telecommunication Limited (SingTel) untuk menggarap pasar solusi TI di berbagai sektor usaha dengan memanfaatkan data center di Indonesia yang kini memiliki kapasitas 70.000 m2.

    Namun, kerja sama ini menuai kritik dari sejumlah kalangan karena dinilai rawan terkait keamanan data, termasuk soal data-data rahasia kenegaraan.

    Menanggapi hal itu, Advisor Indonesian Cloud Forum Mochammad James Falahuddin mengatakan hal yang wajar dalam mengembangkan bisnis teknologi informasi pemain seperti Telkom menggandeng mitra yang ahli di bidangnya.

    "Telkom selama ini kuat di infrastruktur, sementara arahnya kalau bermain TI itu di solusi. Supaya cepat terealisasi harus menggandeng pemain yang sudah ahli. Implementasi strategi itu bisa dilihat pada pembentukan TelkomTelstra (kolaborasi Telkom Indonesia-Telekom Australia)," tutur James.

    Menurutnya, yang perlu diperhatikan dalam pendirian perusahaan patungan dengan mitra asing adalah isu keamanan dari solusi. Namun, hal ini bisa diatasi jika sejak perusahaan didirikan kedua pemegang saham menunjukan komitmen soal transparansi.

    "Isu keamanan bisa dinyatakan sejak awal. Biasanya aplikasi itu kan disesuaikan dengan pasar yang dituju, tentu keamanan harus diperhatikan. Isu keamanan ini paling krusial pada orang yang menjalankan. Lihat saja NSA, bolongnya karena Edward Snowden bicara," jelasnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.