Stop Gunakan Istilah Beras Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buruh tani mengumpulkan karung gabah basah panen yang akan dibawa menyeberangi Sungai Citarik dari Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat, 3 Maret 2015. Harga beras naik sampai 30 persen, dimana pemerintah tidak akan impor karena panen raya akan segera tiba. TEMPO/Prima Mulia

    Buruh tani mengumpulkan karung gabah basah panen yang akan dibawa menyeberangi Sungai Citarik dari Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat, 3 Maret 2015. Harga beras naik sampai 30 persen, dimana pemerintah tidak akan impor karena panen raya akan segera tiba. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian meminta masyarakat untuk menghilangkan penyebutan kata beras dalam beras sintetis yang kini marak beredar di pasaran. Pasalnya, beras terbuat dari padi. Adapun beras sintetis yang belakangan menjadi buah bibir masyarakat terbuat dari bahan kimia yang mengandung unsur plastik.

    "Jangan pakai istilah beras palsu. Karena beras itu terbuat dari padi, sehingga penyebutan beras kurang tepat," kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Yusni Emilia Harahap di Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2015. 

    Menurut dia, saat ini pemerintah masih terus menyelidiki kasus ini hingga menemukan aktor utama penyebar isu. Apalagi beras adalah bahan pokok bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    "Untuk melakukan suatu pembenaran terhadap kasus ini diperlukan kerja cepat, cerdas, tapi dengan hasil yang tepat. Itu yang sekarang sedang dilakukan," ia menegaskan.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.