Tanjung Priok Bisa Saingi Kapasitas Pelabuhan Singapura  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah peti kemas dirunkan dari kapal barang di terminal peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 17 Maret 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Sejumlah peti kemas dirunkan dari kapal barang di terminal peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 17 Maret 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi meyakini proyek pembangunan Pelabuhan New Priok akan menjadi magnet yang memicu bersandarnya kapal-kapal berukuran besar. Dia mengatakan ukuran kapal semakin besar hingga ukuran 18.000 TEUs.

    Sementara itu, Terminal II Pelabuhan Tanjung Priok hanya memiliki kedalaman sembilan meter sehingga kapal yang bersandar maksimal berukuran 1.200 TEUs.

    "Keberadaan New Priok Port berpotensi meningkatkan ukuran kapal yang dapat singgah sehingga dapat menurunkan biaya pengiriman kontainer yang berarti meningkatkan efisiensi biaya logistik," katanya, Minggu, 10 Mei 2015.

    Pelabuhan di Singapura saat ini dapat menampung kapal dengan muatan 16.000 hingga 18.000 TEUs. Sedangkan Pelabuhan Tanjung Priok hanya 1.200--1.500 TEUs.

    Saat ini, kedalaman pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia berkisar antara 6 meter sampai 11 meter. Kondisi ini membatasi kapal-kapal berukuran besar untuk singgah. Selain itu, keadaan tersebut memicu peningkatan biaya per kontainer.

    Dia menjelaskan dengan kedalaman 11 meter, misalnya di Pelabuhan Sorong, kapal yang dapat singgah maksimum berukuran 2.600 TEUs.

    Keberadaan terminal peti kemas dengan kedalaman 16 meter dan terminal produk dengan kedalaman 19 meter dapat mendorong persinggahan kapal-kapal besar di Pelabuhan New Priok. Secara otomatis, New Priok berpotensi meningkatkan efisiensi arus ekspor dan impor.

    "Dari sisi lain, volume container yang tinggi di pelabuhan akan mendorong singgahnya mother vessel," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.